Penderita Psychosis: Subjek Penyengsara ataukah Objek?

ada dua kisah nyata yang saya angkat dalam artikel ini. menyoroti bahwa masih banyak perlakuan yang tidak manusiawi terhadap manusia yang padanya melekat predikat ‘GILA’.

Mungkin Anda pernah menonton film Beautiful Mind

seorang profesor ilmu pasti yang sangat cerdas namun riwayat hidupnya memperlihatkan adanya kejanggalan. mulai dari adanya premorbid kemampuan bersosialisai yang rendah. atau kemungkinan merupakan suatu gambaran kepribadian scizoid, yang ternyata berakhir dalam suatu kemungkinan gangguan kepribadian tersebut yang juga turut mendukung adanya suatu gejala psikosis. betapa tidak!, seorang pemuda lain telah menjadi teman sekamar di asrama tempat ia menempuh pendidikan S1 nya. Ia tampak begitu bahagia, seolah menemukan seseorang yang begitu ia dambakan dalam perkembangan mental dan sosialnya, yaitu seorang sahabat.

suatu saat, sang sahabat itu pergi. hingga ia pun kembali dan membawa seorang anak perempuan yang adalah keponakan sang sahabat. sayang, perang telah memaksa dirinya terlibat dalam misi khusus agen rahasia, dalam rangka memecahkan kode rahasia. beliau sempat juga menikah dengan seorang gadis dan tetap merahasiakan misinya itu.

tapi saudara, tahukah anda bahwa dari semua yang saya ceritakan di atas hanya ada tiga hal saja yang merupakan fakta:

bahwa ia meniokah

bahwa ia kuliah

dan bahwa ia akhirnya jadi profesor

selebihnya, misi rahasia, seorang teman dan anak perempuan

adalah halusinasi!

atau ingatkah anda dengan perjuangan yang mengharukan

seorang wanita Perancis di tahun 1400an yang gigih dan rela mati dibakar hidup-hidup demi apa yang ia anggap benar.

Ia seorang wanita kristiani yang taat, merasa terpanggil dengan banyak tanda mengenai tugas patriotik pembelaan terhadap negaranya dari penjajahan Inggris. Ia mengaku mendapat tanda dari Tuhan, dan bahwa ia harus berpakaian seperti Pria. pada saat itu, di Perancis berlaku peraturan bak hukum taurat. mereka sangat menjunjung tinggi kodrat dan perbedaan pria dan wanita. sehingga apa yang dilakukan wanita ini, walaupun dampaknya positif bagi negar, tetap pada saat itu dianggap sesat.

Namun pada akhirnya wanita malang itu pun akan dihukum atas segala hal yang sepatutnya dianggap pahlawan.

ada satu permintaan terakhirnya pada pastor, yaitu pengakuan dosa. namun sang pastor menolak menerimakan sakramen pengamopungan dan pengakuan itu.

hingga seorang pria aneh berjubah hitam menerimakan pengakuan dosanya.

alhasil

penonton disadarkan bahwa pria berjubah itu adalah halusinasi visual dan segala tanda yang ia dapat bukan visi dari Tuhan

tapi merupakan Waham

sayangnya

sebenarnya wanita itu telah sadar akan hal itu

ini menunjukan adanya fase peralihan yang belum stabil kepada psikosis.

tapi sayang akhirnya ia harus mati sia-sia.

beratus-rauts tahun kemudian

Gereja Katolik yang kudus memberikan gelar orang suci kepadanya

hal ini diangkat dari kisahnya

dan filmnya dikenal dengan judul

the messenger

dialah

Joan of Arc

akankah dua kisah ini membuat mata hati dan pikiran kita terbuka.

sampai saat ini di dunia masih banyak tindakan kurang bahkan tidak manusiawi yang dilakukan manusia lain kepada manusia yang mengalami gangguan jiwa.

alasannya sederhana: agar tidak mengganggu manusia normal

tapi adakah benarnya

melakukan pemasungan bertahun-tahun bahkan sejak balita sampai bahkan tua

hidup bagai anjing

sehingga

mungkin ia bisa saja jadi seorang profesor

tapi oleh karena ia dianggap ‘Gila’

ia akhirnya diikat

sehing mengalami keterbatasan perkembangan motorik dan juga sosialisasi dan mental

sehingga

ya

kita juga yang telah menciptakan ‘ras manusia berprilaku hewan’

begitukah?

bahkan di desa tempat saya mengabdi saat ini pun

masih ada perlukuan tidak manusiawi ini

tidak hanya di pedalaman gorontalo

di jawa (masih ingat seorang wanita yang menjadi inspirasi seorang pria yang memenangkan hadiah rumah 2 miliar di acara reality show beberapa tahun lalu)

menurut anda

manakah yang benar

manusia bisa sakit jiwa

ia terpuruk dengan halusinasinya yang memaksa ia secara langsung dan tak langsung untuk melakukan hal di luar akal sehat sehingga mengganggu kenyamanan orang lain

ia adalah

objek yang terpaksa jadi ‘budak’ halusianasinya?

atau justru subjek yang merusaka tatanan ketenangan hidup kita?

menurut saya

mereka adalah manusia

yang sama seperti saya dan anda

ya

ciptaan Tuhan juga

tapi

mereka sakit

dan mereka membutuhka bantuan kita

yang masih lebih dapat berpikir dengan rasional

maka

wahai sahabat

bantulah saudara kita

mereka juga manusia

Tuhan memberkati kita semua.

2 Comments

  1. Duh , dokter,
    Hal yang sama terjadi dengan adik saya laki2 satu2nya. Ia sudah menderita lebih dari 15 tahun. Saya menonton berkali2 film The beautiful Mind itu. Saya yakin, adik saya sakit. Meskipun latar belakang pendidikan saya bukan psikiatri, saya psikologi pendidikan, tapi saya mengertilah apa yg terjadi dengan adik saya. Dalam kenyataannya, semua cara telah ditempuh, tapi memang harus ada satu kuncinya: sabar dan terus mencari solusi yang paling jitu. Sayang, saya jauh dari adik saya itu sehingga tidak bisa mmbantu secara langsung. Dan sayangnya lagi, kondisi lingkungan adik saya kurang kondisif, yaahhhh…mau apa lagi. Tetapi adia masih terus ke dokter.

    Nah pertanyaan saya: kenapa psikiater kok cara kerjanya juga “gitu2 aja”, gak ada kemajuan…padahal banyak penemuan baru saya baca…apa yg salah dengan pendidikan psikiatri.
    Maaf saaya terlalu curhat… terimakasih dokter dan mohon tanggapannya. (Rita)

  2. terima kasih atas responnya mbak rita

    menanggapi mengenai kasus yg dialami oleh adik anda

    mungkin bila saya boleh mendapatkan data yang lebih komprehensif mengenai adik anda
    saya mungkin dapat memberikan suatu kajian apa dan bagaimana permaslahannya dan termasuk mengapa saat ini prognosisnya seolah dubia sekali

    tapi menilik bahwa onset yang tergolong dini
    dan bahwa adik anda telah mengalami fase aktif yg dini
    sedikit banyak mempengaruhi prognosisnya
    sehingga memang sdikit berat meningkatkan quo ad functionamnya
    tapi yg terpenting dengan tetap melanjutkan terapi medis maupun psikoterapi baik kepada penderita dan keluarga
    saya yakin
    bahwa akan terjalin suatu hubungan timbal balik positif yang nantinya ikut menstabilkan GAF scalenya

    mungkin demikian yg dapat saya tanggapi

    utk selanjutnya apabila masih ada pertanyaan dapat hubungi saya
    terima kasih sebelumnya

    oya

    tambahan

    memang benar banyak kemajuan yg terjadi dalam dunia psikiatri
    tetapi
    mengingat pada kasus ini kemungkinan adanya regresi mental sangat tinggi, jd lebih arif jikalau harapan akan standar perbaikan quo ad functionamnya disesuaikan dengan mental age penderitanya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s