Bumi Memanas, Manusia Terancam Sakit

Oleh: dr. Ezra Ebenezer Soleman

Ada yang Berubah

Seorang bayi tentu suatu saat akan menjadi balita, lalu tumbuh menjadi kanak-kanak (bila semua faktor pertumbuhan dan perkembangan mendukung). Seakan-akan iklim di planet yang bernama bumi juga mengadopsi fakta tersebut. Tapi sayangnya, tak semua hal tersebut berujung pada sesuatu yang lebih baik.

Saat kita masih kecil, kita masih bisa mengetahui pada bulan apa saja kira-kira akan terjadi musim panas ataupun musim penghujan. Dan sekarang, ternyata bahkan kita kadang bingung mendeskripsikan musim panas atau hujankah pada bulan tertentu. Sepertinya cuaca dan iklim juga mengalami suatu reformasi. Mengacu pada isu yang didengung-dengungkan belakangan ini, pemanasan global telah terjadi dan tak menutup kemungkinan akan semakin menggila.

Ancaman itu Bernama Global Warming

Global warming atau pemanasan global merupakan peningkatan suhu dari permukaan bumi. Seperti kita ketahui telah terjadi peningkatan suhu permukaan bumi. Saat ini didapatkan suhu bumi meningkat sebesar kurang lebih 0.6°C (kurang atau lebih 0.2°C) sejak akhir abad 19, dan sekitar 0.4°F (0.2 hingga 0.3°C) pada 25 tahun belakangan. Rata-rata temperatur bumi telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derajat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut naik rata-rata 0,175 cm setiap tahun sejak 1961

Hal ini karena adanya gas rumah kaca yang berada di atmosfer dan menyebabkan panas yang timbul dari permukaan bumi kembali dipancarkan ke permukaan bumi. Gas-gas ini seolah menahan panas dalam permukaan bumi. Sebagai contoh gas tersebut adalah Karbondioksida yang kebanyakan merupakan sisa pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Pemanasan global diakibatkan oleh aktivitas manusia (90%) dan bukan karena fenomena alam. Saat ini manusia sebenarnya bukan cuma sebagai korban dari pemanasan global tapi manusia juga sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70% antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Bagaimana Bisa Kita Terancam Sakit

Peningkatan suhu bumi memiliki dampak terhadap kesehatan manusia. Perubahan cuaca akan berpengaruh pada pola penyakit, baik langsung maupun tidak langsung. Timbulnya penyakit dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu perilaku (45%), lingkungan (40%), interupsi medis (20%), dan penyakit bawaan (5%).

Dampak langsung perubahan iklim terhadap kesehatan seperti gelombang panas dan musim dingin yang ekstrem, mempengaruhi suhu tubuh. Seperti kita ketahui manusia membutuhkan suhu yang optimum agar tetap dapat hidup dengan semestinya. Apabila suhu ruangan kurang dari 20 0 C ataupun lebih dari 27 0 C, maka jantung akan bekerja memompa darah lebih cepat agar bisa mendinginkan tubuh. Hal ini terjadi juga karena kebutuhan suplai oksigen dan nutrisi sel meningkat selama adanya peningkatan metabolisme sel. Hasilnya adalah manusia akan mengalami peningkatan produksi keringat. Pada taraf awal akan memicu terjadinya dehidrasi. Pada taraf yang mengkuatirkan dapat menyebabkan shock oleh karena dehidrasi dan ataupun karena hal lainnya.

Dampak tidak langsung adanya perubahan penyakit yang ditularkan nyamuk atau hewan lainnya (zoonosis). Diperkirakan jika suhu meningkat 3 derajat Celcius pada tahun 2100, maka akan terjadi peningkatan proses penularan penyakit oleh nyamuk dua kali lipat. Misalnya malaria, demam berdarah dengue, chikungunya, radang otak, dan filariasis. Penyakit avian influenza, SARS (pernapasan akut), dan west nile virus juga akan meningkat.

WHO mengungkapkan peningkatan suhu permukaan bumi juga diikuti oleh peningkatan permukaan laut. Hal ini meningkatan risiko terjadinya banjir. Peningkatan suhu permukaan bumi juga mempengaruhi curah hujan. Peningkatan curah hujan juga meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir. Selain itu tinggi permukaan air laut terus meningkat akibat mencairnya es di kutub. Dampaknya sejumlah parasit penyebab penyakit akan terbawa banjir, di antaranya kholera, diare, typoid, dan leptospirosis. Ini belum termasuk berbagai penyakit tidak menular yang diakibatkan pencemaran lingkungan dan bahan toksin. Pada saat terjadi banjir maka dapat dipastikan akan mempengaruhi pasokan air bersih. Sehingga penularan penyakit infeksi kulit, saluran pernafasan maupun pencernaan tentulah akan semakin mudah. Interaksi antara hewan perantara penyakit dan manusia pun meningkat. Dengan adanya banjir maka sampah-sampah atau limbah terbawa ke lingkungan manusia, hewan-hewan pengerat pun kehilangan tempat tinggal dan mereka mencari tempat aman yaitu ke pemukiman manusia, hal ini meningkatkan kemungkinan kontak antara manusia dengan hewan pengerat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit yang diperantarai hewan pengerat.

Perkembangan mikroorganisme juga ikut terpengaruh, contohnya pada laut. Peningkatan suhu permukaan laut menyebabkan peningkatan populasi dari fitoplankton, makanan bagi zooplankton. Ada beberapa mikroorganisme yang hidup secara simbiosis pada zooplankton. Dengan peningkatan makanan bagi zooplankton maka populasi zooplankton akan meningkat, dan akibatnya meningkatkan populasi dan risiko terjadinya penyakit infeksi karena hal tersebut, sebagai contoh penyakit wabah kolera.

Penyakit-penyakit tersebut akan meningkat penularannya ke sejumlah negara subtropik. Menurut Ridad (2007), pemanasan global mengakibatkan arbovirus seperti dengue dan parasit protozoa seperti malaria sudah menyebar ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak ada. Dengan adanya pemanasan global, nyamuk yang menjadi vektor tersebut mampu untuk berkembang biak di daerah yang sebelumnya dianggap terlalu dingin untuk mampu bertahan yaitu isotherm 16 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan.Pemanasan global mengakibatkan siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari telur menjadi larva dan nyamuk dewasa akan dipersingkat, sehingga jumlah populasi akan cepat sekali naik. Fenomena semakin bertambah ganasnya penyakit itu mengakibatkan seolah-olah timbul penyakit baru, padahal penyakit itu sebenarnya masih sama yaitu demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

Sejumlah penyakit memang endemis di wilayah tertentu, namun karena perubahan iklim, berdampak terhadap penyebaran penyakit ke daerah lain. Anopheles adalah jenis nyamuk vektor utama penyakit malaria yang selama ini dianggap mampu berkembang biak pada daerah tropis saja dengan suhu tidak kurang dari 16 derajat Celcius dan pada ketinggian kurang dari 1.000 m. Namun laporan terakhir menunjukkan nyamuk ini telah ditemukan di daerah subtropis dan pada ketinggian yang sebelumnya tidak ditemukan anopheles seperti di Afrika Tengah dan Ethiopia. Di Indonesia malaria dikenal endemis di Papua, tetapi di Jawa Tengah juga ada meskipun sedikit.

Lakukan Sekarang !

Kita tidak tahu kapan efek dari perubahan suhu bumi ini akan benar-benar memberi dampak yang besar bagi umat manusia. Walaupun sebenarnya beberapa dampaknya telah terjadi. Dampak bagi kesehatan manusia juga adalah ancaman yang suatu saat dapat benar-benar nyata. Karena itu semuanya kembali pada kita. Menilik tindakan yang dilakukan oleh Presiden SBY dengan aksi Tanam Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon merupakan salah satu penanggulangan, adalah satu langkah besar yang suatu saat akan membantu mencegah percepatan kerusakan bumi karena pemanasan global.

Upaya lain yang harus kita lakukan adalah penghematan penggunaan listrik , mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan, menjaga kelestarian hutan dan laut yang kita miliki, dan memaksimalkan segala daya untuk mengurangi sampah, yang sebagai salah satu penyumbang pemanasan global.

Selain hal-hal di atas tadi, tentu masih banyak yang dapat kita lakukan. Bila mengacu pada dampak terhadap kesehatan yang mungkin terjadi, maka sosialisasi mengenai ancaman ini seharusnya sudah diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Apabila masyarakat telah mengerti dampak yang begitu besar ini khususnya dalam hal kesehatan, mungkin akan lebih mudah selanjutnya untuk dilakukan gerakan pencegahan secara konkrit dan menyeluruh.

telah diterbitkan di

majalah medis kristen “SAMARITAN” edisi I tahun 2008

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s