Dracula: Myth, History, or Just Psycopath

dracula-2

Bram Stoker’s ‘Dracula’.
Photo Courtesy of reellifewisdom.com

There are so many stories about Dracula. maybe, almost everyone  have read that or even watch the movies.

An Awful scariest creature?

Dracula has been taken from the novel of Irish author named as Bram Stoker. The Novel popular at 1897. The main character is Vampire Count Dracula.

NOWDAYS, Dracula has been transformed into other media. many play at the theater or even cartoon. but refer to the history itself, Radu Florescu has been written on his book ‘ In Search of Dracula’ together with Raymond McNally in 1972, that Dracula has connection with a Transylvanian who was born at Romania. His name is Vlad II Dracula.

“Vlad the Impaler” is said to have killed from 20,000 to 40,000 European civilians (political rivals, criminals, and anyone else he considered “useless to humanity”), mainly by using his favorite method of impaling them on a sharp pole.

Vlad III is revered as a folk hero by Romanians for driving off the invading Turks. His impaled victims are said to have included as many as 100,000 the Muslims people  in Turk.

So it is a history and the story?

well, there are two side of story referring to Dracula. the history which is what have you read above. and the story of Dracula from the novel of Bram Stoker.

So, maybe Bram Stoker has been inspired by the history.

So Nothing Special about it?

It is depend on how do you see it. For me it is kinda interesting topic. If  I can say that the Vlad III (referring the story of Romanians’ People), The person might need help at that time. I have ever read the some source, but i’m not sure is it right or not?, that the Vlad III had tortured animals with his style (stabing the victim from the anal to the head with one stick) since many years before the war at middle east.

I remind a movie about torturing animal. Halloween, A Rob Zombie Film, there was a child who came from an awful family. His father is an alcoholic, his mother a stripper, his older sister looks never like him.  he starting become a murderer by insulting the animal, and ending it by becoming a psychopath killer.

On behalf of Psychiatry side point of view, his situation of early living has been a big factor of the growing of his mental disorder. Now, let us compare to the story of Vlad III who also has been called as Dracul. Well i’m not sure for the fact of how his living situation at his early stage of life. But, if the story of Vlad III is a TRUE based on reality even, so in my opinion maybe there was something happen which was induced his mental situation which was tranfered into what he was.

The term Psycopath itself, referring to a psychosis (mental disorder) which is transformed to the act of the person who has it, by killing people or other which is not induced by adequate stressor to do it.

by

Ezra E. Soleman, M.D

(from Many sources)

Swine Flu ?, Protect Yourself!

By. Ezra E. Soleman, M.DN95 Respirator

What is it?

It is a respiratory disease, caused by influenza type A/H1N1 which infects pigs.

It can be spread from person to person.

Coughing and sneezing can easy transmit this virus from one person to another.

How do we prevent that?

Just follow this steps:

Step 1

Frequent Hand Washing with soap

Can Help Prevent Swine Flu

Step 2

Sneezing Spreads Germs

Cover Your Nose and Mouth with napkins when you are sneezing or coughing

Step 3

See Doctor or Paramedics if you have fever with cough and or sneeze

Zanamivir Is An Antiviral Drug Used To Treat Swine Flu

Step 4

Use Face Mask

A Respiratory Mask Can Help Protect You

Don’t touch your eyes, nose or mouth with your hand or fingers


Things  you’ll Need:

  • Face Mask
  • Frequents Hand washing

Daftar On Line Pasca sarjana di UI

sekarang rata-rata pendaftaran suatu pendidikan tertentu dapat melalui situs internet. begitu juga dengan yang telah dilakukan Universitas Indonesia belakangan ini. proses penerimaan mahasiswa barunya sekarang menggunakan sistem lewat internet. walau demikian, beberapa bagian tertentu masih menggunakan cara lama, seperti beberapa waktu lalu saya ingin mendaftar di salah satu program. saya masih menggunakan jalur manual, dan entah mengapa, bagi saya pribadi saya lebih suka menggunakan jalur manual. bagi saya lebih jelas rasanya usaha yang saya lakukan. itu pendapat saya lho, tapi menurut saya cara lewat internet juga bagus sekali, khususnya membantu teman-teman kita yang tinggalnya tidak di Jakarta. mereka yang tinggal di luar DKI Jakarta, mungkin dapat merasakan bahwa car ini mudah dan murah, karena tidak perlu langsung ke tempatnya di Jakarta.

Proses seleksi mahasiswa baru Universitas Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu:

  • Tahap 1: Peserta harus lulus ujian saringan masuk Universitas Indonesia
  • Tahap 2: Peserta harus lulus seleksi administrasi (berkas ijazah, dll.) sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan

untuk info yang kali ini saya sampaikan, adalah bagi para alumni S1 yang tertarik mengambil  lanjutannya di UI. Peserta harus memiliki ijazah jenjang pendidikan sarjana atau profesi atau magister dalam bidang ilmu yang sesuai dan memiliki prestasi akademik yang baik serta memenuhi persyaratan lainnya sesuai program studi dan jenjang pendidikan yang dipilih.

untuk dapat mendaftar

Pendaftar cukup membuat account di http://penerimaan.ui.ac.id. Setelah login, pendaftar dapat mengisi formulir pendaftaran secara online di alamat http://penerimaan.ui.ac.id. dan mendapatkan nomor pendaftaran. Nama peserta diisikan tanpa gelar akademik atau sebutan profesi. Selanjutnya peserta meng-upload file foto berwarna terbaru berukuran 4×6 cm di alamat http://penerimaan.ui.ac.id. Melunasi biaya pendaftaran melalui ATM atau Teller menggunakan nomor pendaftaran yang diperoleh sebelumnya. Pembayaran dapat dilakukan melalui ATM tertentu. Setelah itu, pendaftar akan mendapatkan nomor ujian dan kartu peserta ujian yang dapat dicetak berwarna secara mandiri untuk digunakan pada waktu pelaksanaan ujian saringan. Mengikuti ujian saringan (Tahap 1) sesuai jadwal dan materi yang telah ditetapkan dengan membawa kartu peserta ujian yang telah dicetak secara online dan identitas diri yang digunakan ketika melaksanakan pendaftaran secara online. (Catatan: pendaftar memasukkan nomor identitas diri ketika melakukan pendaftaran secara online). Jika lulus ujian saringan (Tahap 1), pendaftar wajib menyerahkan berkas-berkas yang dipersyaratkan ke Gedung Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu Kampus UI Depok sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Panitia penerimaan kemudian akan melakukan proses seleksi Tahap 2 terhadap berkas-berkas yang dikirim. Pengumuman peserta yang diterima akan diumumkan sesuai tanggal yang telah ditetapkan di http://penerimaan.ui.ac.id dengan menggunakan account yang telah dibuat sebelumnya. Peserta yang diterima akan tercantum dalam lampiran Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia tentang Hasil Seleksi Calon Mahasiswa Program Pendidikan Pascasarjana, Profesi, dan Spesialis Semester termaksud.

diadaptasikan dari situs resmi penerimaan mahasiswa UI

http://penerimaan.ui.ac.id

saya ingin mengenal anda lebih dekat

kunjungi

facebook saya

Ezra Benez

Penderita Psychosis: Subjek Penyengsara ataukah Objek?

ada dua kisah nyata yang saya angkat dalam artikel ini. menyoroti bahwa masih banyak perlakuan yang tidak manusiawi terhadap manusia yang padanya melekat predikat ‘GILA’.

Mungkin Anda pernah menonton film Beautiful Mind

seorang profesor ilmu pasti yang sangat cerdas namun riwayat hidupnya memperlihatkan adanya kejanggalan. mulai dari adanya premorbid kemampuan bersosialisai yang rendah. atau kemungkinan merupakan suatu gambaran kepribadian scizoid, yang ternyata berakhir dalam suatu kemungkinan gangguan kepribadian tersebut yang juga turut mendukung adanya suatu gejala psikosis. betapa tidak!, seorang pemuda lain telah menjadi teman sekamar di asrama tempat ia menempuh pendidikan S1 nya. Ia tampak begitu bahagia, seolah menemukan seseorang yang begitu ia dambakan dalam perkembangan mental dan sosialnya, yaitu seorang sahabat.

suatu saat, sang sahabat itu pergi. hingga ia pun kembali dan membawa seorang anak perempuan yang adalah keponakan sang sahabat. sayang, perang telah memaksa dirinya terlibat dalam misi khusus agen rahasia, dalam rangka memecahkan kode rahasia. beliau sempat juga menikah dengan seorang gadis dan tetap merahasiakan misinya itu.

tapi saudara, tahukah anda bahwa dari semua yang saya ceritakan di atas hanya ada tiga hal saja yang merupakan fakta:

bahwa ia meniokah

bahwa ia kuliah

dan bahwa ia akhirnya jadi profesor

selebihnya, misi rahasia, seorang teman dan anak perempuan

adalah halusinasi!

atau ingatkah anda dengan perjuangan yang mengharukan

seorang wanita Perancis di tahun 1400an yang gigih dan rela mati dibakar hidup-hidup demi apa yang ia anggap benar.

Ia seorang wanita kristiani yang taat, merasa terpanggil dengan banyak tanda mengenai tugas patriotik pembelaan terhadap negaranya dari penjajahan Inggris. Ia mengaku mendapat tanda dari Tuhan, dan bahwa ia harus berpakaian seperti Pria. pada saat itu, di Perancis berlaku peraturan bak hukum taurat. mereka sangat menjunjung tinggi kodrat dan perbedaan pria dan wanita. sehingga apa yang dilakukan wanita ini, walaupun dampaknya positif bagi negar, tetap pada saat itu dianggap sesat.

Namun pada akhirnya wanita malang itu pun akan dihukum atas segala hal yang sepatutnya dianggap pahlawan.

ada satu permintaan terakhirnya pada pastor, yaitu pengakuan dosa. namun sang pastor menolak menerimakan sakramen pengamopungan dan pengakuan itu.

hingga seorang pria aneh berjubah hitam menerimakan pengakuan dosanya.

alhasil

penonton disadarkan bahwa pria berjubah itu adalah halusinasi visual dan segala tanda yang ia dapat bukan visi dari Tuhan

tapi merupakan Waham

sayangnya

sebenarnya wanita itu telah sadar akan hal itu

ini menunjukan adanya fase peralihan yang belum stabil kepada psikosis.

tapi sayang akhirnya ia harus mati sia-sia.

beratus-rauts tahun kemudian

Gereja Katolik yang kudus memberikan gelar orang suci kepadanya

hal ini diangkat dari kisahnya

dan filmnya dikenal dengan judul

the messenger

dialah

Joan of Arc

akankah dua kisah ini membuat mata hati dan pikiran kita terbuka.

sampai saat ini di dunia masih banyak tindakan kurang bahkan tidak manusiawi yang dilakukan manusia lain kepada manusia yang mengalami gangguan jiwa.

alasannya sederhana: agar tidak mengganggu manusia normal

tapi adakah benarnya

melakukan pemasungan bertahun-tahun bahkan sejak balita sampai bahkan tua

hidup bagai anjing

sehingga

mungkin ia bisa saja jadi seorang profesor

tapi oleh karena ia dianggap ‘Gila’

ia akhirnya diikat

sehing mengalami keterbatasan perkembangan motorik dan juga sosialisasi dan mental

sehingga

ya

kita juga yang telah menciptakan ‘ras manusia berprilaku hewan’

begitukah?

bahkan di desa tempat saya mengabdi saat ini pun

masih ada perlukuan tidak manusiawi ini

tidak hanya di pedalaman gorontalo

di jawa (masih ingat seorang wanita yang menjadi inspirasi seorang pria yang memenangkan hadiah rumah 2 miliar di acara reality show beberapa tahun lalu)

menurut anda

manakah yang benar

manusia bisa sakit jiwa

ia terpuruk dengan halusinasinya yang memaksa ia secara langsung dan tak langsung untuk melakukan hal di luar akal sehat sehingga mengganggu kenyamanan orang lain

ia adalah

objek yang terpaksa jadi ‘budak’ halusianasinya?

atau justru subjek yang merusaka tatanan ketenangan hidup kita?

menurut saya

mereka adalah manusia

yang sama seperti saya dan anda

ya

ciptaan Tuhan juga

tapi

mereka sakit

dan mereka membutuhka bantuan kita

yang masih lebih dapat berpikir dengan rasional

maka

wahai sahabat

bantulah saudara kita

mereka juga manusia

Tuhan memberkati kita semua.

Klasifikasi Stadium Gagal Ginjal Kronik pada Pria yang Menderita Gagal Ginjal Kronik Berdasarkan Perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus di RSMH Palembang Periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan dalam tubuh.1 Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit serta mengekskresi kelebihannya sebagai air seni. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme (seperti urea, kreatinin, asam urat) dan zat kimia asing. Selain fungsi regulasi dan ekskresi, ginjal juga mensekresi renin (penting untuk mengatur tekanan darah), juga bentuk aktif vitamin D (penting untuk mengatur kalsium) serta eritropoetin (penting untuk sintesis darah). Kegagalan ginjal dalam melaksanakan fungsi-fungsi vital ini menimbulkan keadaan yang disebut uremia atau gagal ginjal kronik (GGK) stadium terminal. Perkembangan yang terus beranjut sejak tahun 1960 dari teknik dialysis dan transplantasi ginjal sebagai pengobatan stadium terminal GGK, merupakan alternatif dari resiko kematian yang hampir pasti.

Gagal ginjal kronik merupakan penyakit ginjal dengan jumlah penderita tertinggi setiap tahun berdasarkan catatan rekam medis RSMH Palembang. Pada tahun 2003 misalnya, terdapat 160 kasus baru yang teridentifikasi sebagai gagal ginjal kronik, sedangkan jumlah kasus penyakit ginjal tertinggi urutan kedua hanya sebesar 55 kasus baru yaitu pada penyakit cystitis. Hal ini tak jauh berbeda apabila dibandingkan dengan data pada tahun 2002 yang menunjukan gagal ginjal kronik menempati urutan pertama jumlah penderita penyakit ginjal terbanyak. Jumlah penderita penyakit tersebut pada saat itu adalah 179 kasus baru.

Penelitian di Canada pada tahun 2001 menunjukan bahwa penderita terbanyak penyakit gagal ginjal kronik ini adalah pria. Hal tersebut mirip dengan yang terjadi di RSMH. Kasus gagal ginjal kronik di RSMH paling banyak di derita oleh pria berusia lebih dari 17 tahun. Hal ini terlihat misalnya pada data penderita gagal ginjal kronik pada tahun 2002. Dari data tersebut penderita penyakit ini adalah sebanyak 179 orang. Dari jumlah tersebut 63,68 % merupakan pasien pria.2

Salah satu cara menegakkan diagnosis gagal ginjal adalah dengan menilai kadar ureum dan kreatinin serum, karena kedua senyawa ini hanya dapat diekskresi oleh ginjal. Kreatinin adalah hasil perombakan keratin, semacam senyawa berisi nitrogen yang terutama ada dalam otot.2 Banyaknya kadar kreatinin yang diproduksi dan disekresikan berbanding sejajar dengan massa otot. Pada pria kadarnya biasanya lebih besar daripada wanita. Pada pria kadar kreatinin normal adalah 0.5-1.4 mg/dl.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran berat badan, usia, kadar hemoglobin, kadar ureum dan kreatinin serum pada pria yang menderita gagal ginjal kronik?

2. Bagaimana gambaran klasifikasi gagal ginjal kronik berdasarkan hasil perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pada pria yang menderita gagal ginjal kronik?

1.3 Tujuan

1. Mengidentifikasi berat badan, usia, kadar ureum dan kreatinin serum pada pria yang menderita gagal ginjal kronik.

2. Memberikan gambaran klasifikasi gagal ginjal kronik berdasarkan hasil perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pada pria yang menderita gagal ginjal kronik

1.4 Manfaat

1. Memperlambat perkembangan stadium gagal ginjal kronik pada pasien yang menderita gagal ginjal kronik agar tidak menjadi lebih buruk.

2. Meningkatkan pelayanan, sarana dan prasarana kesehatan untuk penatalaksanaan pasien dengan stadium gagal ginjal kronik terbanyak di RSMH.

3. Membuka wawasan penderita dan keluarga penderita ataupun para klinisi tentang klasifikasi stadium gagal ginjal kronik berdasarkan hasil perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus.

4. Menjadi rekomendasi apabila dilakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan penelitian ini dan menambah khazanah ilmu pengetahuan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fisiologi Ginjal

Ginjal adalah organ vital yang berperan sangat penting dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme (seperti urea, kreatinin, asam urat) dan zat kimia asing. Selain fungsi regulasi dan ekskresi, ginjal juga mensekresi renin (penting untuk mengatur tekanan darah), juga bentuk aktif vitamin D (penting untuk mengatur kalsium) serta eritropoetin (penting untuk sintesis darah). Kegagalan ginjal dalam melaksanakan fungsi-fungsi vital ini menimbulkan keadaan yang disebut uremia atau penyakit ginjal stadium terminal. Perkembangan yang terus berlanjut sejak tahun 1960 dari teknik dialisis dan transplantasi ginjal sebagai pengobatan penyakit ginjal stadium terminal merupakan alternatif dari resiko kematian yang hampir pasti.3

Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstrasel dalam batas-batas normal. Tentu saja ini dapat terlaksana dengan mengubah ekskresi air dan solut dimana kecepatan filtrasi yang tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan ketepatan yang tinggi. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorpsi dan sekresi tubulus. Fungsi ginjal yang lainnya antara lain mengekskresikan bahan-bahan kimia tertentu (obat-obatan dan sebagainya), hormon-hormon dan metabolit lain.

Pembentukan renin dan eritropoetin serta metabolisme vitamin D merupakan fungsi non-ekskretor yang penting. Sekresi renin yang berlebihan mungkin penting pada etiologi beberapa bentuk hipertensi. Defisiensi eritropoetin dan pengaktifan vitamin D dianggap penting sebagai etiologi anemia dan penyakit tulang pada uremia.

Ginjal juga penting sehubungan dengan degradasi insulin dan pembentukan sekelompok senyawa yang mempunyai makna endokrin yang berarti, yaitu prostaglandin. Sekitar 20% dari insulin yang dibentuk oleh pankreas didegradasi oleh sel-sel tubulus ginjal. Akibatnya penderita diabetes yang menderita payah ginjal mungkin membutuhkan insulin yang jumlahnya lebih sedikit. Prostaglandin (PG) merupakan hormon asam lemak tidak jenuh yang terdapat dalam banyak jaringan tubuh. Medula ginjal membentuk PGA2 ­ dan PGE2 yang merupakan vasodilator potensial. Prostaglandin mungkin mempunyai peranan penting dalam pengaturan aliran darah ginjal, pengeluaran renin dan reabsorpsi Na+. Kekurangan prostaglandin mungkin juga ikut berperan pada beberapa bentuk hipertensi ginjal sekunder, meskipun bukti-bukti yang ada masih kurang memadai.

2.2. Gagal Ginjal Kronik

2.2.1. Epidemiologi

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan sindrom klinis yang bersifat progresif dan dapat menyebabkan kematian pada sebagian besar kasus stadium terminal GGK.4,5 Apabila penyakit GGK seseorang telah mencapai stadium berat atau terminal maka terapi yang dapat meningkatkan harapan hidup penderita tersebut adalah dialisis dan yang paling baik dengan transplantasi ginjal.

Penyakit ginjal stadium terminal merupakan penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas di Amerika Serikat. Hamper satu dari 10.000 orang pertahun mengalami penyakit ginjal stadium terminal. Pada tahun 1986 program penyakit ginjal stadium terminal dari Health Care Financing Administration (HCFA) Medicare mencakup 114. 859 pasien dengan biaya hamper 3 milyar dollar pertahun. Pada 1984 dilakukan hampir 7000 tranplantasi ginjal, sedangkan pasien-pasien lainnya menjalani hemodialisis atau dialysis peritoneal. Penyakit ginjal stadium terminal merupakan program penyakit kronik yang terbesar di banyak negara.3

Menurut penelitian Feest dan kawan-kawan Devon dan Northwest, insiden penyakit ginjal stadium terminal berkisar 148 dari 1000.000 orang pertahun.6,7 Hasil penelitian Khan dan kawan-kawan di Grampian, insiden penyakit ginjal stadium terminal berkisar 130 dari 1000.000 orang pertahun.7,8 Insiden penyakit ginjal stadium terminal bertambah sesuai dengan pertambahan usia. Menurut penelitian Feest di Southampton, rata-rata berjumlah 58,160, 282, 503 dan 588 dari 1000.000 orang pertahun dalam kelompok usia 20-49, 50-59, 60-69, 70-79, ≥80.7,10,11

2.2.2. Klasifikasi, Etiologi dan Patogenesis

2.2.2.1 Klasifikasi

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut dengan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) kurang dari 50 ml/menit. Gagal ginjal kronik dibagi menjadi empat stadium berdasarkan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)11:

1. GGK ringan : LFG 30 – 50 ml/menit

2. GGK sedang : LFG 10 – 29 ml/menit

3. GGK berat : LFG <10 ml/menit

4. Gagal Ginjal Terminal : LFG <5 ml/menit

2.2.2.2 Etiologi

Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversibel dari berbagai penyebab.12 Sebab-sebab gagal ginjal kronik yang sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas seperti berikut:

1. infeksi, misal pielonefritis kronik.

2. Penyakit peradangan, misal glomerulonefritis.

3. Penyakit vaskuler hipertensif, misal nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis.

4. Gangguan jaringan penyambung, misal lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodusa, sklerosis sistemik progresif.

5. Gangguan kongenital dan herediter, misal penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.

6. Penyakit metabolik, misal diabetes melitus, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis.

7. Nefropati toksik, misal penyalahgunaan analgesik, nefropati timbal.

8. Nefropati obstruktif, misal saluran kemih bagian atas seperti kalkuli, neoplasma, fibrosis retroperitoneal; dan saluran kemih bagian bawah seperti hipertrofi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

2.2.2.3 Patogenesis

Gambaran umum perjalanan gagal ginjal kronik dapat diperoleh dengan melihat hubungan antara bersihan kreatinin dan kecepatan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) sebagai persentase dari keadaan normal, terhadap kreatinin serum dan kadar nitrogen urea darah (BUN) dengan rusaknya massa nefron secara progresif oleh penyakit ginjal kronik.

Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi menjadi empat stadium. Stadium ringan dinamakan penurunan cadangan ginjal. Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal dan penderita asimptomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut, seperti test pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test LFG yang teliti.3

Stadium sedang perkembangan tersebut disebut insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (LFG besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini kadar BUN baru mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda-beda, tergantung dari kadar protein dalam diet. Pada stadium ini, kadar kreatinin serum juga mulai meningkat melebihi kadar normal. Azotemia biasanya ringan, kecuali bila penderita misalnya mengalami stress akibat infeksi, gagal jantung, atau dehidrasi. Pada stadium insufisiensi ginjal ini pula gejala-gejala nokturia dan poliuria (diakibatkan oleh kegagalan pemekatan) mulai timbul. Gejala-gejala ini timbul sebagai respons terhadap stress dan perubahan makanan atau minuman yang tiba-tiba. Penderita biasanya tidak terlalu memperhatikan gejala-gejala ini, sehingga gejala tersebut hanya akan terungkap dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang teliti.3

Stadium berat dan stadium terminal gagal ginjal kronik disebut gagal ginjal stadium akhir atau uremia. Gagal ginjal stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur, atau hanya sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai LFG hanya 10% dari keadaan normal, dan bersihan kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml per menit atau kurang. Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat menyolok sebagai respons terhadap LFG yang mengalami sedikit penurunan. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah, karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Kemih menjadi isoosmotis dengan plasma pada berat jenis yang tetap sebesar 1,010. Penderita biasanya menjadi oligourik (pengeluaran kemih kurang dari 500 ml/hari) karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus ginjal. Kompleks perubahan biokimia dan gejala-gejala yang dinamakan sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita pasti akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialisis. Meskipun perjalanan klinis penyakit ginjal kronik dibagi menjadi empat stadium, tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadium-stadium tersebut.3

2.2.3 Gambaran Klinik dan Diagnosis

Manifestasi klinis pada pasien gagal ginjal kronik banyak terdapat pada seluruh sistem organ tersebut. Hal ini disebabkan karena organ ginjal memegang peranan yang penting dalam tubuh yaitu sebagai organ yang mengekskresikan seluruh sisa-sisa hasil metabolisme. Secara umum pasien tersebut akan mengalami kelelahan dan kegagalan pertumbuhan. Pada inspeksi ditemukan kulit pucat, mudah lecet, rapuh dan leukonikia. Sedangkan pada mata ditemukan gejala mata merah dan pada pemeriksaan funduskopi ditemukan fundus hipertensif.12

Gejala sistemik yang dapat ditemukan antara lain hipertensi, penyakit vaskuler, hiperventilasi asidosis, anemia, defisiensi imun, nokturia, poliuria, haus, proteinuria, dan gangguan berbagai organ lainnya. Bahkan pada penderita stadium lanjut terdapat gangguan fungsi seksual seperti penurunan libido, impoten, amenore, infertilitas, ginekomastia, galaktore. Tulang dan persendian juga dapat terjadi gangguan seperti adanya rakhitis akibat defisiensi vitamin D dan juga gout serta pseudogout. Letargi, tremor, malaise, mengantuk, anoreksia, myoklonus, kejang, dan koma merupakan manifestasi klinis pada sistem syaraf.13

Diagnosis gagal ginjal kronik dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya gejala-gejala sistemik seperti gangguan pada sistem gastrointestinal, kulit, hematologi, saraf dan otot, endokrin, dan sistem lainnya. Pada anamnesis diperlukan data tentang riwayat penyakit pasien, dan juga data yang menunjukkan penurunan faal ginjal yang bertahap.3

Etiologi memegang peranan penting dalam memperkirakan perjalanan klinis gagal ginjal kronik dan terhadap penanggulangannya. Dalam anamnesis dan pemeriksaan penunjang perlu dicari faktor-faktor yang memperburuk keadaan gagal ginjal kronik yang dapat diperbaiki seperti infeksi traktus urinarius, obstruksi traktus urinarius, gangguan perfusi dan aliran darah ginjal, gangguan elektrolit, pemakaian obat nefrotoksik termasuk bahan kimia dan obat tradisional. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada gagal ginjal kronik antara lain pemeriksaan laboratorium, EKG, USG, foto polos abdomen, pemeriksaan pyelografi, pemeriksaan foto thorax, dan pemeriksaan radiologi tulang.

2.2.4. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan secara konservatif terdiri dari tiga cara. Pertama adalah usaha untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal. Pencegahan kerusakan ginjal lebih lanjut adalah usaha yang kedua. Sedangkan pengelolaan masalah yang terdapat pada pasien dengan gagal ginjal kronik dan komplikasinya adalah usah yang ketiga. Adapun penyebab gagal ginjal kronik, penurunan progresif fungsi ginjal akan sampai tahap uremia atau terminal. Penatalaksanaan konsevatif gagal ginjal kronik lebih bermanfaat bila penurunan faal ginjal masih ringan.3

Dalam usaha memperlambat progresi gagal ginjal maka penting dilakukan pengobatan terhadap hipertensi. Selain itu pembatasan asupan protein, retriksi fosfor, pengurangan proteinuria dan pengendalian hiperlipidemia adalah tahap lainnya dalam memperlambat progresi gagal ginjal. Pencegahan kerusakan gagal ginjal lebih lanjut dapat dilakukan dengan penambahan cairan fisiologis (rehidrasi), dan penanganan sepsis. Pengelolaan uremia dan komplikasinya dilakukan dengan penyeimbangan cairan dan elektrolit serta penanganan asidosis metabolik, hiperkalemia, diet rendah protein, dan anemia.3

2.2.5. Pemeriksaan Penunjang Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)

Dalam rangka mendapatkan diagnosis yang tepat pada penyakit ginjal sudah barang tentu diperlukan kelengkapan data-data yang saling mendukung satu dengan lainnya. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang yang tepat dan terarah sehingga diagnosis penyakit ginjal yang tepat dapat terpenuhi. Pada pelaksanaan sehari-hari ada lima bentuk pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi struktur ginjal, yaitu pemeriksaan serologi, pemeriksaan radiologi, biopsi ginjal, pemeriksaan dipstick terhadap urine, perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang ditentukan dengan memeriksa bersihan dari bahan-bahan yang diekskresikan oleh filtrasi glomerulus.

Pada penyakit gagal ginjal kronik, pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis penyakit ini adalah dengan pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus. Dalam pemeriksaan perhitungan laju filtrasi glomerulus terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan seperti umur, berat badan, jenis kelamin, dan kreatinin serum. Hal ini berdasarkan formula Cockcroft-Gault11 yaitu:

Untuk laki-laki:

Pada penyakit ginjal kronik, nilai LFG turun di bawah nilai normal. LFG juga akan menurun pada orang usia lanjut. Sesudah usia 30 tahun nilai LFG akan menurun dengan kecepatan sekitar 1 ml/menit pertahun.

2.2.5.1. Ureum

Gugusan amino dicopot dari asam amino bila asam itu didaur ulang menjadi sebagian dari protein lain atau dirombak dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Amino transferase (transaminase) yang ada diberbagai jaringan mengkatalis pertukaran gugusan amino antara senyawa-senyawa yang ikut serta dalam reaksi-reaksi sintesis. Di lain pihak, deaminasi oksidatif memisahkan gugusan amino dari molekul aslinya dan gugusan yang dilepaskan itu diubah menjadi amoniak. Amoniak diantar ke hati dan disana ia berubah menjadi ureum melalui reaksi-reaksi bersambung. Ureum adalah satu molekul kecil yang mudah mendifusi ke dalam cairan ekstrasel, tetapi pada akhirnya ia dipekatkan dalam urin dan diekskresi. Jika keseimbangan nitrogen dalam keadaan mantap, ekskresi ureum kira-kira 25 gr setiap hari.14

Kadar ureum dalam serum mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi. Metode penetapan adalah dengan mengukur nitrogen; di Amerika Serikat hasil penetapan disebut sebagai nitrogen ureum dalam darah (Blood Urea Nitrogen, BUN). Dalam serum normal konsentrasi BUN adalah 8-25 mg/dl. Nitrogen menyusun 28/60 bagian dari berat ureum, karena itu konsentrasi ureum dapat dihitung dari BUN dengan menggunakan faktor perkalian 2,14.

Penetapan ureum tidak banyak diganggu oleh artefak. Pada pria mempunyai kadar rata-rata ureum yang sedikit lebih tinggi dari wanita karena tubuh pria memiliki lean body mass yang lebih besar. Nilai BUN mungkin agak meningkat kalau seseorang secara berkepanjangan makan pangan yang mengandung banyak protein, tetapi pangan yang baru saja disantap tidak berpengaruh kepada nilai ureum pada saat manapun. Jarang sekali ada kondisi yang menyebabkan kadar BUN dibawah normal. Membesarnya volume plasma yang paling sering menjadi sebab. Kerusakan hati harus berat sekali sebelum terjadi BUN karena sintesis melemah.

Konsentrasi BUN juga dapat digunakan sebagai petunjuk LFG. Bila seseorang menderita penyakit ginjal kronik maka LFG menurun, kadar BUN dan kreatinin meningkat. Keadaan ini dikenal sebagai azotemia (zat nitrogen dalam darah). Kadar kreatinin merupakan indeks LFG yang lebih cermat dibandingkan BUN. Hal ini terutama karena BUN dipengaruhi oleh jumlah protein dalam diet dan katabolisme protein tubuh.3

2.2.5.2. Kreatinin

Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatinin. Kreatinin yang terutama disintesis oleh hati, terdapat hampir semuanya dalam otot rangka; disana ia terikat secara reversibel kepada fosfat dalam bentuk fosfokreatin, yakni senyawa penyimpan energi. Reaksi kreatin + fosfat ↔ fosfokreatin bersifat reversibel pada waktu energi dilepas atau diikat. Akan tetapi sebagian kecil dari kreatin itu secara irreversibel berubah menjadi kreatin yang tidak mempunyai fungsi sebagai zat berguna dan adanya dalam darah beredar hanyalah untuk diangkut ke ginjal. Jumlah kreatinin yang disusun sebanding dengan massa otot rangka; kegiatan otot tidak banyak mempengaruhi. Nilai rujukan untuk pria adalah 0,6 – 1,3 mg/dl dan untuk wanita 0,5 – 1 mg/dl serum.14 Nilai kreatinin pada pria lebih tinggi karena jumlah massa otot pria lebih besar dibandingkan jumlah massa otot wanita.2

Banyaknya kreatinin yang disusun selama sehari hampir tidak berubah kecuali kalau banyak jaringan otot sekaligus rusak oleh trauma atau oleh suatu penyakit. Ginjal dapat mengekskresi kreatinin tanpa kesulitan. Berbeda dari ureum berkurang aliran darah dan urin tidak banyak mengubah ekskresi kreatinin, karena perubahan singkat dalam pengaliran darah dan fungsi glomerulus dapat diimbangi oleh meningkatnya ekskresi kreatinin oleh tubuli. Kadar kreatinin dalam darah dan ekskresi kreatinin melalui urin per 24 jam menunjukkan variasi amat kecil; pengukuran ekskresi kreatinin dalam urin 24 jam tidak jarang digunakan untuk menentukan apakah pengumpulan urin 24 jam dilakukan dengan cara benar.

Kreatinin dalam darah meningkat apabila fungsi ginjal berkurang. Jika pengurangan fungsi ginjal terjadi secara lambat dan disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan, maka ada kemungkinan kadar kreatinin dalam serum tetap sama, meskipun ekskresi per 24 jam kurang dari normal. Ini bisa didapat pada pasien berusia lanjut kadar BUN yang meningkat berdampingan dengan kadar kreatinin yang normal biasanya menjadi petunjuk ke arah sebab ureumnya tidak normal. Ureum dalam darah cepat meninggi daripada kreatinin bila fungsi ginjal menurun; pada dialisis kadar ureum lebih dulu turun dari kreatinin. Jika kerusakan ginjal berat dan permanen, kadar ureum terus-menerus meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar. Kalau kreatinin dalam darah sangat meningkat, terjadi ekskresi melalui saluran cerna.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. dengan pendekatan retrospektif

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di RS dr. Moh. Hoesin Palembang.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2005.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi adalah semua pria penderita gagal ginjal kronik yang berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang pada periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah semua pria penderita gagal ginjal kronik yang berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang pada periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004.

3.4. Variabel Penelitian

3.4.1. Karakteristik Sosiodemografi

a. Usia

b. Agama

c. Status perkawinan

d. Jaminan kesehatan

e. Berat badan

3.4.2. Data Laboratorium

a. Hemoglobin

b. Ureum serum

c. Kreatinin serum

3.4.3. Laju Filtrasi Glomerulus

3.4.4. Stadium Gagal Ginjal Kronik

a. Stadium ringan

b. Stadium sedang

c. Stadium berat

d. Stadium terminal

3.5. Batasan Operasional

a. Gagal ginjal kronik

Adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut dengan laju filtrasi glomerulat(LFG) kurang dari 50 ml/menit. Gagal ginjal kronik dibagi menjadi empat stadium, antara lain:

1. GGK ringan : LFG 50-30 ml/menit

2. GGK sedang : LFG 10-29 ml/menit

3. GGK berat : LFG <10 ml/menit

4. Gagal Ginjal Terminal : LFG <5 ml/menit

b. Usia

Adalah usia pasien gagal ginjal kronik pada saat berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004.

c. Agama

Adalah agama pasien gagal ginjal kronik pada saat berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu.

d. Status Perkawinan

Adalah status perkawinan pasien gagal ginjal kronik pada saat berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004 , yaitu kawin, belum kawin, duda.

e. Jaminan Kesehatan

Adalah jaminan kesehatan pasien gagal ginjal kronik pada saat berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004. Jaminan kesehatan pasien terdiri dari Askes (asuransi kesehatan) dan bukan Askes.

f. Berat badan

Adalah berat badan pasien gagal ginjal kronik pada saat berobat di RS dr. Moh. Hoesin Palembang periode 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004.

g. Hemoglobin

Adalah pigmen pembawa oksigen eritrosit, dibentuk oleh eritrosit yang berkembang di dalam sumsum tulang. Batasan normal hemoglobin pada pria 14 – 16 gr/dl. Anemia akan timbul bila seorang pria memiliki kadar hemoglobin kurang dari 14 gr/dl.15

h. Kreatinin serum

Adalah hasil perombakan keratin, semacam senyawa berisi nitrogen yang terutama ada dalam otot. Banyaknya kadar kreatinin yang diproduksi dan disekresikan berbanding sejajar dengan massa otot. Pada pria kadarnya biasanya lebih besar daripada wanita. Pada pria kadar kreatinin normal adalah 0.5-1.4 mg/dl.

i. Laju filtrasi glomerulus

adalah kecepatan filtrasi darah melalui glomerulus. Pada orang normal sekitar 125 ml/menit. Pada kasus gagal ginjal LFG dapat bervariasi sesuai stadiumnya.

1. LFG 50-30 ml/menit : GGK ringan

2. LFG 10-29 ml/menit : GGK sedang

3. LFG <10 ml/menit : GGK berat

4. LFG <5 ml/menit : GGK Terminal

Dalam pemeriksaan perhitungan LFG terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan seperti umur, berat badan, jenis kelamin, dan kreatinin serum. Hal ini berdasarkan formula Cockcroft-Gault yaitu:

Untuk laki-laki:

j. Ureum

Adalah hasil akhir metabolisme protein, tidak mengalami perubahan bentuk dari senyawa aslinya, dan hanya diekskresikan dalam urin. Kadar normalnya adalah 20 40 mg/dl

3.6. Metode Pengumpulan Data

Data didapatkan dari catatan rekam medik hasil pemeriksaan laboratorium klinik di RS dr. Moh. Hoesin Palembang 1 Januari 2003 – 31 Desember 2004.

3.7. Analisis Data

Data yang terkumpul ditabulasi dan disajikan secara deskriptif kuantitatif.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan data rekam medis RSMH periode tahun 2003 – 2004. Populasi penderita GGK yang di rawat di RSMH pada periode tersebut berjumlah 130 penderita. Pengambilan data dilakukan selama bulan Februari dan Maret 2005.

4.1 Hasil

4.1.1 Karakteristik Sosiodemografi

4.1.1.1 Usia

Penderita GGK di RSMH memiliki variasi usia yang beragam. Pada tahun 2003, tercatat penderita GGK yang mendapatkan perawatan di bangsal penyakit dalam RSMH memiliki usia tertua yaitu 74 tahun. Sedangkan pada tahun yang sama, tercatat pasien GGK yang paling muda berusia 16 tahun. Rentang usia yang paling banyak menderita GGK pada tahun ini adalah antara 46 sampai dengan 50 tahun dengan jumlah penderita sebanyak 10 orang. Berikut ini adalah tabel usia penderita GGK yang dirawat di RSMH selama tahun 2003.

Tabel 1. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Usia Penderita Gagal Ginjal

Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH pada Tahun 2003 (n=67)

Usia (tahun)

N

Persentase

16 – 20

5

7,46

21 – 25

4

5,97

26 – 30

1

1,49

31 – 35

5

7,46

36 – 40

4

5,97

41 – 45

6

8,95

46 – 50

10

14,92

51 – 55

7

10,44

56 – 60

9

13,43

61 – 65

9

13,43

66 – 70

5

7,46

71 – 75

2

2,98

Jumlah

67

100

Pada tahun 2004 jumlah penderita GGK di RSMH tercatat sebanyak 63 orang penderita. Apabila usia termuda yang menderita GGK dan di rawat di RSMH pada tahun 2003 adalah 16 tahun maka tahun 2004 penderita termudanya berusia 18 tahun. Usia tertua pada penderita GGK tahun 2004 adalah 72 tahun. Berikut ini adalah tabel usia penderita GGK yang dirawat di RSMH selama tahun 2004.

Tabel 2. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Usia Penderita Gagal Ginjal

Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH pada Tahun 2004 (n=63)

Usia (tahun)

n

Persentase

16 – 20

1

1,58

21 – 25

2

3,17

26 – 30

3

4,76

31 – 35

1

1,58

36 – 40

4

6,34

41 – 45

12

19,04

46 – 50

6

9,52

51 – 55

12

19,04

56 – 60

6

9,52

61 – 65

8

12,69

66 – 70

7

11,11

71 – 75

1

1,58

Jumlah

63

100

4.1.1.2 Status Perkawinan

Penderita GGK yang dirawat di RSMH pada tahun 2003 maupun 2004 mayoritas telah bekeluarga. Hal ini terlihat dari data tahun 2003 yang menunjukan sebanyak 58 orang penderita atau 86,56 % telah kawin. Dari 67 orang penderita pada tahun 2003 hanya 9 orang yang belum kawin. Hal ini seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Status Perkawinan Penderita

Gagal Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Status

n

Persentase

Kawin

58

86,56

Tak kawin

9

13,43

Jumlah

67

100

Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada tahun 2004. Tercatat hanya 5 orang dari 63 orang penderita yang belum kawin. Selebihnya sebanyak 92,06 % telah kawin lebih dulu sebelum akhirnya mengalami penyakit ini dan dirawat di RSMH pada tahun 2004. Berikut adalah tabel status perkawinan penderita GGK di RSMH pada tahun 2004.

Tabel 4. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Status Perkawinan Penderita

Gagal Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Status

n

Persentase

Kawin

58

92,06

Tak kawin

5

7,93

Jumlah

63

100

4.1.1.3 Agama

Penderita GGK di RSMH pada tahun 2003 dan 2004 kebanyakan menganut agama Islam. Pada tahun 2003, sebanyak 66 dari 67 penderita menganut agama Islam. Hal ini berarti hanya satu orang penederita saja yang menganut agama selain Islam. Hal ini seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Agama Penderita Gagal Ginjal

Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH pada Tahun 2003 (n=67)

Agama

n

Persentase

Islam

66

98,50

Kristen

1

1,49

Lain-lain

0

0

Jumlah

67

100

Hal serupa juga terjadi pada tahun berikutnya. Penderita yang menganut agama selain islam hanya satu orang. Hal itu berarti 98,41 % dari jumlah penderita GGK tahun 2004 menganut agama Islam. Hal ini tercakup pada tabel di bawah ini.

Tabel 6. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Agama Penderita Gagal Ginjal

Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH pada Tahun 2004 (n=63)

Agama

n

Persentase

Islam

62

98,41

Kristen

1

1,58

Lain-lain

0

0

Jumlah

63

100

4.1.1.4 Jaminan Kesehatan

Pada umumnya penderita GGK di RSMH bukan peserta askes. Pada tahun 2003, hanya 38,80 % atau 26 orang saja yang merupakan anggota askes. Sedangkan pada tahun 2004 peserta askes di antara penderita GGK semakin berkurang saja yaitu hanya sebanyak 20 dari 63 orang. Selebihnya penderita GGK ini mengusahakan jaminan kesehatan dari sumber lainnya. Berikut adalah tabel jaminan kesehatan para penderita GGK pada tahun 2003 dan 2004.

Tabel 7. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Jaminan Kesehatan Penderita

Gagal Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Jaminan Kesehatan

n

Persentase

Askes

26

38,80

Bukan askes

41

61,11

Jumlah

67

100

Tabel 8. J Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Jaminan Kesehatan Penderita

Gagal Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Jaminan Kesehatan

n

Persentase

Askes

20

31,74

Bukan askes

43

68,25

Jumlah

63

100

4.1.1.5 Berat Badan

Berat badan penderita GGK yang dirawat di RSMH cukup bervariasi. Ada pasien yang memiliki berat badan yang ekstrim rendah maupun tinggi. Sebagai contoh ada penderita yang memiliki berat badan 20 kg. Ada juga penderita yang memiliki berat badan yang mencapai 101 kg. Berat badan yang terdapat disini adalah berat badan penderita yang ditimbang ketika pertama kali di rawat di RSMH. Berikut tabel berat badan penderita GGK selengkapnya.

Tabel 9. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Berat Badan Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Berat Badan (kilogram)

n

Persentase

< 31

0

1,49

31 – 35

2

2,98

36 – 40

2

2,98

41 – 45

4

4,47

46 – 50

15

22,38

51 – 55

10

14,92

56 – 60

19

28,35

61 – 65

5

7,46

66 – 70

3

4,47

≥ 71

7

10,44

Jumlah

67

100

Tabel 10. Karakteristik Sosiodemografi berdasarkan Berat Badan Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Berat Badan (kilogram)

n

Persentase

< 31

1

1,49

31 – 35

2

2,98

36 – 40

2

2,98

41 – 45

3

4,47

46 – 50

12

22,38

51 – 55

10

14,92

56 – 60

18

28,35

61 – 65

5

7,46

66 – 70

3

4,47

≥ 71

7

10,44

Jumlah

63

100

4.1.2 Data Laboratorium

4.1.2.1 Hemoglobin

Pemeriksaan hemoglobin terkait dengan pemantauan fungsi ginjal sebagai penghasil eritropoeitin yang berfungsi sebagai substansi yang ikut membentuk sel darah merah. Hemoglobin merupakan salah satu komponen dalam pemeriksaan laboratorium darah rutin. Pada tahun 2003 tercatat bahwa sebanyak 52 dari 67 orang penderita GGK memiliki hemoglobin dalam rentang antara 5,1 – 10 gr/dl. Hal ini terjadi pula pada tahun 2004 tapi dengan jumlah penderita sebanyak 46 orang atau sebanyak 68,65 %.

Pada tahun 2003 yang memiliki kadar hemoglobin kurang atau sama dengan 5 gr/dl sebanyak 6 orang. Sedangkan pada tahun 2004 yang memiliki kadar hemoglobin demikian hanya satu orang. Untuk kadar hemoglobin lebih atau sama dengan 15 gr/dl baik pada tahun 2003 ataupun tahun 2004 hanya satu orang. Kadar hemoglobin yang dicantumkan disini adalah kadar hemoglobin yang pertama kali diukur saat penderita dirawat di RSMH. Perincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Hemoglobin Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Hemoglobin (gr/dl)

n

Persentase

≤ 5

6

8,95

5,1 – 10

52

77,61

10,1 – 15

8

11,94

≥ 15,1

1

1,49

Jumlah

67

100

Tabel 12. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Hemoglobin Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Hemoglobin (gr/dl)

n

Persentase

≤ 5

1

1,58

5,1 – 10

46

68,65

10,1 – 15

15

22,38

≥ 15,1

1

1,58

Jumlah

63

100

4.1.2.2 Ureum

Kadar ureum dapat mewakili sejauh mana ginjal mengalami gangguan. Hal ini karena ureum adalah salah satu substansi yang hanya dapat diekskresikan melalui ginjal. Kadar ureum yang terdapat pada tabel adalah kadar ureum yang pertama kali diperiksa saat pasien dirawat di RSMH. Kadar ureum yang paling banyak didapatkan pada pemeriksaan serum pasien GGK baik pada tahun 2003 maupun tahun 2004 adalah antara 101 – 150. kadar ureum yang paling sedikit didapat pada pemeriksaan tersebut adalah kurang atau sama dengan 50. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 13. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Ureum Serum Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Ureum Serum (mg/dl)

n

Persentase

≤ 50

3

4,47

51 – 100

16

23,88

101 – 150

19

28,35

151 – 200

7

10,44

201 – 250

10

14,92

251 – 300

8

11,94

≥ 301

4

5,97

Jumlah

67

100

Tabel 14. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Ureum Serum Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Ureum Serum (mg/dl)

n

Persentase

≤ 50

1

1,58

51 – 100

11

16,41

101 – 150

17

26,98

151 – 200

11

16,41

201 – 250

7

11,11

251 – 300

5

7,93

≥ 301

11

16,41

Jumlah

63

100

4.1.2.3 Kreatinin serum

Kreatinin juga merupakan substansi yang hanya dapat diekskresikan melalui urin. Kadar kreatinin serum pasien penting dalam perhitungan laju filrasi glomerulus guna menentukan stadium GGK. Kadar kreatinin serum yang ditampilkan adalah kadar kreatinin yang pertama kali diperiksa saat penderita dirawat di RSMH. Kadar kreatinin serum yang paling banyak ditemukan baik pada tahun 2003 maupun tahun 2004 adalah antara 5,1 – 10 mg/dl. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 15. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Kreatinin Serum Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2003 (n=67)

Kreatinin Serum

(mg/dl)

n

Persentase

0 – 5

12

17,91

5,1 – 10

25

37,31

10,1 – 15

11

16,41

15,1 – 20

5

7,46

20,1 – 25

7

10,44

25,1 – 30

4

5,97

≥ 30,1

3

4,47

Jumlah

67

100

Tabel 16. Data Laboratorium berdasarkan Kadar Kreatinin Serum Penderita Gagal

Ginjal Kronik yang Menerima Perawatan di RSMH

pada Tahun 2004 (n=63)

Kreatinin Serum (mg/dl)

n

Persentase

0 – 5

10

15,87

5,1 – 10

26

41,26

10,1 – 15

14

22,22

15,1 – 20

11

16,41

20,1 – 25

0

0

25,1 – 30

1

1,58

≥ 30,1

1

1,58

Jumlah

63

100

4.1.3 Stadium Gagal Ginjal Kronik

Stadium GGK dapat ditentukan oleh laju filtrasi glomerulus. Pada tahun 2003 didapatkan hasil sejumlah 23 orang penderita GGK stadium terminal. Stadium terminal adalah suatu tahap dimana penderita GGK hanya memiliki LFG kurang dari 5 ml/menit. Sedangkan stadium berat adalah tahap dimana penderita GGK dapat memiliki LFG antara 5 – 9,9 ml/menit, terdapat 20 orang menderita GGK pada stadium ini. Ada 24 orang yang mengalami GGK stadium sedang atau stadium dimana LFG penderita berkisar antara10 – 29,9 ml/menit. Hasil lainnya menunjukan bahwa tidak ada yang menderita GGK stadium ringan. Stadium ringan sendiri adalah tahap dimana penderita GGK dapat memiliki LFG antara 30 – 50 ml/menit. Hal ini terdapat pada tabel di bawah ini.

Tabel 17. Distribusi Stadium Gagal Ginjal Kronik pada Penderita yang Menerima

Perawatan di RSMH pada Tahun 2003 (n=67)

Stadium GGK

n

Persentase

Terminal

23

34,32

Berat

20

29,85

Sedang

24

35,80

Ringan

0

0

Jumlah

67

100

Pada tahun 2004 didapatkan hasil sebagai berikut, sebanyak 21 orang menderita stadium terminal GGK, 23 orang mengalami stadium berat, dan 19 orang mengalami stadium sedang. Sama seperti pada tahun sebelumnya, pada tahun 2004 juga tidak ada yang menderita stadium ringan GGK. Hal ini terdapat pada tabel di bawah ini.

Tabel 18. Distribusi Stadium Gagal Ginjal Kronik pada Penderita yang Menerima

Perawatan di RSMH pada Tahun 2004 (n=63)

Stadium GGK

n

Persentase

Terminal

21

33,33

Berat

23

36,50

Sedang

19

30,15

Ringan

0

0

Jumlah

63

100

Pada tahun 2004 terdapat dua orang yang meninggal dalam perawatan di RSMH. Kedua penderita tersebut sama-sama mengidap penyakit GGK pada stadium terminal. Salah satu penderita yang meninggal dalam perawatannya berusia 61 tahun dengan LFG hanya 3 ml/menit.

4.2 Pembahasan

Ada beberapa variabel yang dibahas pada penelitian ini. Antara lain mengenai karakteristik sosiodemografi, data laboratorium, stadium gagal ginjal kronik. Karakteristik sosiodemografi yang meliputi usia, status perkawinan, agama, jaminan kesehatan, dan berat badan. Sedangkan data laboratorium meliputi kadar hemoglobin, ureum, kreatinin serum.

Variabel karakteristik sosiodemografi meliputi banyak hal, diantaranya usia. Usia yang dimaksud adalah usia saat penderita tersebut dirawat di RSMH. Distribusi usia penderita GGK cukup bervariasi yaitu antara 16 – 75 tahun. Dari data hasil penelitian didapatkan usia termuda penderita GGK pada populasi penelitian adalah 16 tahun. Hal ini disebabkan penderita yang di rawat di RSMH bagian penyakit dalam adalah penderita yang termasuk kategori dewasa. Penderita dengan usia di atas 40 tahun jumlahnya lebih banyak bila dibandingkan dengan penderita yang usianya 40 tahun ataupun di bawahnya. Hal ini terjadi karena GGK adalah suatu penyakit yang perjalanan penyakitnya panjang sehingga memiliki kecenderungan timbulnya gejala pada usia tersebut.

Variabel karakteristik sosiodemografi yang lainnya adalah status perkawinan. Kebanyakan penderita telah berkeluarga. Hal ini terjadi karena penderita yang dirawat di bagian penyakit dalam RSMH adalah penderita dewasa yang secara secara hukum sudah layak untuk berkeluarga. Dominasi distribusi penderita terhadap suatu variabel tertentu juga terjadi pada variabel agama. Dalam hal ini mayoritas penderita memeluk agama Islam. Hal ini disebabkan antara lain karena memang jumlah penduduk yang memeluk agama Islam adalah yang terbanyak di Indonesia. Berbeda dengan hal-hal yang dipaparkan sebelumnya, untuk jaminan kesehatan ternyata jumlah penderita yang tidak memiliki jaminan kesehatan seperti askes jumlahnya tidak secara berlebihan berbeda dengan jumlah penderita yang memiliki askes. Walau demikian tetap lebih banyak penderita yang tidak memiliki askes. Hal ini dimungkinkan karena mayoritas dari penderita adalah masyarakat miskin yang tidak mampu untuk memiliki askes ataupun tidak memiliki pekerjaan yang memungkinkan kepemilikan askes. Sehingga kebanyakan dari penderita mencari sumber dana lain dalam rangka memenuhi kewajiban pembayaran biaya perawatan dan pengobatan. Untuk variabel berat badan, penderita GGK kebanyakan memiliki berat antara 46 – 60 kg. Hal ini karena tubuh penderita mengalami banyak perubahan yang destruktif sehingga berdampak pada metabolisme tubuh yang kurang baik. Selain itu kebanyakan penderita termasuk dalam kategori miskin yang mengalami cukup kesulitan dalam

memenuhi kebutuhan pangan.

Hal lain yang penting untuk dibahas adalah mengenai data laboratorium. Dalam hal ini meliputi kadar hemoglobin, ureum dan kreatinin serum. Oleh karena para penderita ini mengalami gangguan pada ginjal maka bukan hanya fungsi ginjal sebagai organ ekskretor saja yang terganggu tapi fungsi ginjal sebagai pembentuk substasi penting dalam eritropoeiesis juga terganggu. Sehingga secara laboratorium klinik didapatkan kadar hemoglobin yang rendah. Hal ini sesuai dengan data hasil penelitian yang menunjukan mayoritas penderita memiliki kadar hemoglobin yang rendah yaitu kurang dari 10,1 gr/dl. Selain itu, fungsi ginjal sebagai ekskretor sendiri juga terganggu dan dicerminkan dari kadar ureum dan kreatinin serum yang tinggi. Seperti telah dijelaskan pada bab 2, bahwa ureum dan kreatinin adalah substansi yang hanya bisa diekskresikan melalui ginjal. Sehingga apabila fungsi ginjal terganggu maka kadar substansi ini pun tinggi dalam tubuh penderita.

Berdasarkan data laboratorium yang ada serta data lainnya maka laju filtrasi glomerulus dapat ditentukan. Dalam hal ini LFG penting dalam menyusun klasifikasi stadium GGK. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah penderita cukup merata mulai dari stadium sedang sampai terminal. Sedangkan pada stadium ringan tidak ditemukan penderita yang di rawat di RSMH untuk periode tersebut. Hal ini dimungkinkan oleh karena perjalanan penyakit yang panjang dengan gejala yang tak terlalu mengganggu pada stadium ringan, sehingga para penderita stadium ringan maupun para klinisi mungkin tidak merasa memerlukan perawatan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pria penderita gagal ginjal kronik yang di rawat di RSMH pada tahun 2003 berjumlah 67 orang. Kebanyakan dari penderita tersebut berusia di atas 40 tahun serta memiliki berata badan antara 46 – 60 kg. Para penderita umumnya memiliki kadar hemoglobin yang rendah (≤10 gr/dl), kadar ureum serum yang tinggi (≥51 mg/dl) dan kreatinin serum yang tinggi (≥5 mg/dl).

2. Pria penderita gagal ginjal kronik yang di rawat di RSMH pada tahun 2004 berjumlah 63 orang. Kebanyakan dari penderita tersebut berusia di atas 40 tahun serta memiliki berat badan antara 46 – 60 kg. Para penderita umumnya memiliki kadar hemoglobin yang rendah (≤10 gr/dl), kadar ureum serum yang tinggi (≥51 mg/dl) dan kreatinin serum yang tinggi (≥5 mg/dl).

3. Berdasarkan perhitungan laju filtrasi glomerulus, pria yang menderita GGK pada tahun 2003 paling banyak memiliki nilai laju filtrasi glomerulus antara 10 – 29,9 ml/menit dan termasuk pada stadium sedang. Sedangkan pada tahun 2004 paling banyak memiliki nilai LFG antara 5 -9,9 ml/menit dan termasuk pada stadium berat.

4. Berdasarkan perhitungan laju filtrasi glomerulus, pria yang menderita GGK pada tahun 2003 dan 2004 paling sedikit memiliki nilai LFG antara 30 – 50 ml/menit, dimana nilai LFG tersebut termasuk dalam stadium ringan.

5.2 Saran

  1. Merekomendasikan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode penelitian analitik multivariabel mengenai penyakit ini.

  1. Penderita GGK dengan laju filtrasi glomerulus sekitar 50 ml/menit harus mewaspadai adanya kecenderungan untuk terjadinya kegagalan fungsi ginjal lebih lanjut.

  1. Merekomendasikan kepada RSMH untuk menyediakan fasilitas dan pelayanan jasa kesehatan yang lebih memadai untuk penderita GGK seluruh stadium pada umumnya maupun secara khusus untuk penderita GGK pada stadium dengan jumlah penderita terbanyak.

Daftar Pustaka

1. Graber, Mark A. 2002. Terapi Cairan, Elektrolit, dan Metabolit. Farmedia. Jakarta

2. _________. 2005. Women’s Health Risks and Chronic Kidney Disease. www.davita.com/articles/ckd/index.shtml?id=132

3. Price, Sylvia A. Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis

Proses-proses Penyakit Jilid 2. Penerbit EGC. Jakarta

4. MJ, Klag et all. 1996. Blood Pressure and End-stage Renal Disease in Men. N England J Med. England

5. Fored, C Michael et all. 2003. Socio-economic Status and Chronic Renal Failure: A Population-based Case-control Study in Sweden. www.ndt.oupjournals.org/cgi/reprint/18/1/82

6. g

7. g

8. s

9. f

10. TG, Feest et all. 1990. Incidence of Advanced Chronic Renal Failure and The Need for End-stage Renal Replacement Therapy. BMJ. USA

11. _________. 2001. Renal Association Treatment of Adult Patients with Renal Failure Standards and Audit Measures (Third Edition). www.bapn.uwcm.ac.uk/epide.doc.

12. Tim Penyusun Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta

13. Mansjoer, Arief. Dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

14. Lange. Appleton. 2000. Current Medical Diagnosis and Treatment 2000. The McGraw-Hill Companies. United State of America

15. Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Penerbit EGC. Jakarta.

16. Tim Penerjemah EGC. 1996. Kamus Kedokteran Dorland. Penerbit EGC. Jakarta.

Makalah ini adalah Hasil penelitian yang bersangkutan

dibuat guna melengkapi syarat perolehan gelar Sarjana Kedokteran

pada

FK Unsri

tahun 2005

KONSTITUSIONAL PSIKOLOGIS REMAJA PUTRI YANG TELAH MENGALAMI MENARCHE DI SLTP NEGERI I KECAMATAN INDRALAYA KABUPATEN OGAN ILIR


Oleh:

Ezra E.S, Fani Paulina, Alti I A, Putri IL, Mimie M,Theresia M S, Angga P, Ibnu K, Ria D, Victori
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA,2003

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa reproduksi adalah masa yang penting bagi seluruh organisme di permukaan bumi ini untuk meneruskan keturunannya. Seperti halnya makhluk lain, manusia juga menjalankan perannya dalam meneruskan keturunan, dan wanita memiliki peranan yang cukup besar. Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang lebih dikenal dengan masa pubertas. Ada berbagai perubahan yang terjadi selama masa ini berlangsung, antara lain pertumbuhan badan yang cepat, munculnya ciri-ciri seks sekunder, perubahan emosi, dan menarche. Pria mengalami masa pubertas sekitar usia 13-16 tahun, dan wanita mengalaminya pada usia 12-15 tahun. Selanjutnya masa ini akan berakhir pada saat tercapainya kematangan seksual.

Menarche sebenarnya hanya sebuah istilah medis untuk menjelaskan peristiwa menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang wanita. Menarche menjadi hal yang penting bagi seorang wanita dan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena hal ini menandai awal kedewasaan biologis seorang wanita. Usia ketika mengalami menarche sangat beragam, ada yang mengalaminya pada usia 11 tahun bahkan ada yang lebih muda lagi. Namun, ada juga yang mengalaminya pada usia 18 tahun.

Konstitusional psikologis merupakan pengaruh perubahan morfologi dan fisiologi terhadap psikologi. Hal ini menjadi penting karena di masa menarche, ataupun secara keseluruhan pubertas, terjadi serangkaian perubahan baik secara fisik maupun mental yang saling mempengaruhi. Dan hal ini semakin kompleks setelah seorang remaja putri mengalami menarche. Misalnya pada seorang remaja putri yang baru mengalami perubahan ciri seks sekunder, akan terjadi perubahan lain secara psikis yang saling mempengaruhi. Masalah kontitusional psikologis, apalagi pada wanita yang telah menarche, tidak dapat begitu saja dilupakan. Mengingat hal ini akan mempengaruhi kehidupan secara keseluruhan remaja itu sendiri misalnya saja pada remaja putri yang mengalami pengalaman psikis yang traumatik pada masa setelah menarche, dan juga hal ini dapat berdampak besar pada kehidupan di masa yang akan datang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Permasalahan yang menjadi pokok penelitian ini adalah konstitusional psikologis pada remaja putri yang telah mengalami menarche di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan fakta tersebut, permasalahan yang timbul adalah:

1. Apa pendapat remaja putri di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir mengenai menarche?

2. Bagaimana reaksi remaja putri di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir ketika mendapat menarche?

3. Bagaimana dampak menarche terhadap psikologis remaja putri di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir?

1.3 Tujuan

Untuk itu, tujuan penulisan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan pendapat remaja putri tentang menarche di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

2. Mengetahui reaksi remaja putri ketika mendapat menarche di SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

3. Mengetahui dampak menarche terhadap psikis remaja putri di SLTP SLTP I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

1.4 Manfaat

1. Memberi informasi yang benar tentang menarche kepada anak remaja putri.

2. Merekomendasikan penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai menarche.

3. Menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang menarche.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Anak Remaja Putri Selama Masa Pubertas

Istilah pubertas berasal dari perkataan pubercere yang berarti menjadi matang9. Masa pubertas adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan dimana terdapat berbagai perubahan yang cepat pada masa kehidupan manusia yang dimulai pada usia 13-16 tahun pada pria, dan 12-15 tahun pada wanita. Masa ini berakhir pada saat terjadinya kematangan seksual. Tidak ada batas yang tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas. Tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas pada wanita dimulai dengan berfungsinya ovarium dan timbulnya tanda seks sekunder. Pubertas pada wanita berakhir saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur, serta sudah ada kemampuan bereproduksi. Pubertas pada wanita berlangsung kurang lebih selama 4 tahun.

Perubahan-perubahan tersebut kira-kira terjadi pada umur:

9-10 : Tulang pinggul mulai tumbuh ke arah bentuk yang khas wanita dewasa, lemak mulai tertimbun, membentuk garis-garis yang khas, puting susu mulai timbul

10-11 : Puting susu mulai semakin besar, rambut pubis mulai tumbuh.

11-13 : Lingkaran di sekitar puting susu mulai terbentuk, alat-alat reproduksi serta genitalia mulai berkembang, dinding vagina makin tebal, dan cairan vagina mulai disekresikan.

12-14 : Mamae berkembang lebih lanjut dan putingnya makin menghitam.

13-15 : Rambut pubis semakin banyak, bulu ketiak mulai tumbuh. Menarche terjadi pada usia ini tetapi masih belum teratur.

15-17 : Lemak sekitar pinggul dan mamae semakin tebal, haid semakin teratur.

16-18 : Pertumbuhan tinggi badan terhenti, tinggi badan maksimum tercapai.

2.2 Menarche

Menarche adalah haid atau menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang wanita dan terjadi di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Menstruasi atau haid adalah perdarahan periodik dan siklik dari uterus disertai pengelupasan (deskuamasi) endometrium.

Menarche merupakan suatu tanda yang penting bagi seorang wanita yang menunjukkan adanya produksi hormon yang normal yang dibuat oleh hipothalamus dan kemudian diteruskan pada ovarium dan uterus. Selama sekitar dua tahun hormon-hormon ini akan merangsang pertumbuhan tanda-tanda sex sekunder seperti pertumbuhan payudara, perubahan-perubahan kulit, perubahan siklus, pertumbuhan rambut ketiak dan rambut pubis serta bentuk tubuh menjadi bentuk tubuh wanita yang ideal.

Usia untuk mencapai fase terjadinya menarch dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor suku, genetik, gizi, sosial, ekonomi, dll. Di Inggris usia rata-rata untuk mencapai menarche adalah 13,1 tahun, sedangkan suku Bundi di Papua Nugini menarche dicapai pada usia 18,8 tahun. Anak wanita yang menderita kelainan tertentu selama dalam kandungan mendapatkan menarche pada usia lebih muda dari usia rata-rata. Sebaliknya anak wanita yang menderita cacat mental dan mongolisme akan mendapat menarche pada usia yang lebih lambat. Terjadinya penurunan usia dalam mendapatkan menarche sebagian besar dipengaruhi oleh adanya perbaikan gizi.

Menarche biasanya terjadi antara tiga sampai delapan hari, rata-rata lima setengah hari. Dalam satu tahun setelah terjadinya menarche, ketidakteraturan haid masih sering dijumpai. Ketidakteraturan terjadinya haid adalah kejadian yang biasa dialami oleh para remaja putri, namun demikian hal ini dapat menimbulkan keresahan pada diri remaja itu sendiri.

Sekitar dua tahun setelah menarche akan terjadi ovulasi. Ovulasi ini tidak harus terjadi setiap bulan tetapi dapat terjadi setiap dua atau tiga bulan dan secara berangsur siklusnya akan menjadi lebih teratur. Dengan terjadinya ovulasi, spasmodic dismenorrhoea dapat timbul.

2.3 Menstruasi

Siklus endometrium :

1. Proliferasi dari endometrium uterus (11 hari)

2. Perubahan sekretoris pada endometrium (12 hari)

3. Deskuamasi dari endometrium/ menstruasi (5 hari)

2.3.1 Proliferasi dari Endometrium Uterus (fase estrogen)

fase ini terjadi sebelum ovulasi. Di bawah pengaruh estrogen yang disekresikan dalam jumlah lebih banyak oleh ovarium. Selama bagian pertama siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel epitel berproliferasi cepat. Permukaan endometrium akan mengalami epitelisasi kembali dalam waktu 4-7 hari sesudah terjadinya menstruasi. Kemudian selama satu setengah minggu berikutnya yaitu sebelum terjadinya ovulasi, ketebalan endometrium meningkat cepat. Pada saat ovulasi endometrium mempunyai ketebalan 3-4 mm.

2.3.2 Perubahan Sekretoris pada Endometrium (fase progestasional)

Setelah ovulasi terjadi, progesteron dan estrogen disekresikan dalam jumlah yang besar oleh korpus luteum. Estrogen menyebabkan sedikit proliferasi sel pada endometrium selama fase siklus endometrium, sedangkan progesteron menyebabkan pembengkakan yang nyata dan perkembangan sekretorik dari endometrium. Pada puncak fase sekretorik, sekitar 1 minggu setelah ovulasi ketebalan endometrium sudah menjadi 5-6 mm.

2.3.3 Deskuamasi dari Endometrium

Kira-kira 2 minggu sebelum akhir siklus bulanan, korpus luteum tiba-tiba berinvolusi dan hormon-hormon ovarium menurun tajam sampai kadar sekresi rendah, kemudian terjadi menstruasi. Selama menstruasi normal, 40 ml darah dan 35 ml cairan serus dikeluarkan. Pengeluaran darah akan berhenti 4-7 hari sesudah dimulainya menstruasi, karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epitelisasi kembali.

2.4. Psikologis

Menurut psikiater Dadang Hawari, masa remaja merupakan tahapan siklus kehidupan manusia. Mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa muda, dewasa, tua, dan lanjut usia. Setiap tahapan dalam siklus kehidupan manusia itu akan mengalami perubahan-perubahan, baik secara biologik, psikologik, sosial dan spiritual.

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak ke dewasa. Masa remaja adalah waktu yang optimal dengan kecepatan perubahan fisik, intelektual, kemampuan sosial, dan juga periode kemurungan, pemberontakan atau masa sedih kehilangan masa kecil, tidak peduli, dan bersenang-senang. Pada remaja putri, awal perubahan ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), serta pertumbuhan ciri-ciri seks sekunder. Misalnya payudara, bokong dan bagian tubuh lainnya, dan mulai tertarik pada lawan jenis.

Derek Miller 4 (1974) mengajukan tiga tahap masa remaja, yaitu:

1) Masa Remaja Awal (11-15 tahun)

Dikarakterkan turmoil, pada saat ini terjadi perubahan dasar tubuh, kehilangan kontrol tubuh dan hormonal terhadap emosi. Menurutnya remaja pada masa ini mulai sadar akan kegelisahan dan ketegangan, anak perempuanpun akan menjadi pemalu terhadap hal-hal tertentu dan membentuk sikap pertahanan diri. Miller menekankan pentingnya reaksi ayah terhadap perkembangan anak perempuannya serta berbesar hati untuk mengekspresikan secara verbal penghargaannya terhadap perubahan anak mereka.

2) Masa Remaja Menengah (14-18 tahun)

Mengidentifikasikan diri “siapakah saya?” dan menyadari diri sendiri. Remaja pada masa ini membentuk keuletan, ide, kegunaan, dan perasaan tentang moral serta hasrat seksual yang mengutamakan kepentingan orang lain daripada keluarga.

3) Masa Remaja Akhir (17-20 tahun)

Dideskripsikan sebagai masa penanggulangan dimana remaja pada masa ini berusaha mencoba aturannya sendiri.

Menarche merupakan tanda awal kedewasaan seorang wanita. Dengan meningkatnya kedewasaan maka seorang wanita akan mulai tertarik pada lawan jenis, manghargai sifat-sifat kewanitaan dan keindahan. Akibatnya mereka lebih banyak menyisihkan waktunya untuk merawat wajah dan tubuhnya serta lebih memperhatikan penampilan diri. Setelah remaja putri mengalami menarche akan terjadi perubahan morfologis dan fisiologis pada dirinya yang berpengaruh terhadap psikologis remaja putri tersebut. Perubahan psikologis yang paling menonjol adalah perubahan emosional dimana pada masa ini emosional menjadi tidak stabil, mudah marah, lamban dalam bereaksi, mudah putus asa, banyak melakukan kesalahan dan perubahan kegairahan.

Menurut survei pada salah satu asrama putri di Inggris, anak wanita dalam fase haid selalu mengantuk dan ingin tidur saja sehingga mengakibatkan kerapian mereka berkurang, selain itu pada fase ini mereka lebih nakal daripada yang diperkirakan. Banyak dari hukuman-hukuman yang mereka terima selama masa haid berkisar pada suatu kejadian yang disebabkan karena kelelahan seperti pelupa dan tidak menepati waktu yang telah ditentukan. Pada masa ini juga terjadi perubahan kegairahan seperti prestasi akademis yang menurun, menjadi anak yang pemalas, lekas marah, mementingkan diri sendiri dan tingkah lakunya menjadi buruk.1

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah survei deskriptif kualitatif.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan berlangsung pada tanggal 19 Januari 2004 sampai dengan 24

Januari 2004. Tempat penelitian adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)

Negeri I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah remaja putri yang telah mengalami menarche di SLTP Negeri I Kecamatan Indaralaya Kabupaten Ogan Ilir yang dipilih dengan membagikan angket kepada seluruh remaja putri di SLTP Negeri I Indralaya tersebut. Selanjutnya dari populasi ini akan diambil sampel dengan cara proporsional sratified random sampling. Adapun tahap-tahap pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

1) Subjek populasi dikelompokkan dalam beberapa stratum yang beranggotakan sama;

2) Daftar subjek dibuat dari tiap stratum;

3) Subjek sampel dipilih dari masing-masing subpopulasi dengan teknik random murni.5

3.4 Variabel

Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah konstitusional psikologis remaja putri yang telah mengalami menarch yang didapatkan dengan cara depth interview.

3.5 Definisi Operasional

3.5.1 Psikologi

Adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari pikiran dan berbagai proses kejiwaan, khususnya sehubungan dengan perilaku manusia dan binatang.7

3.5.2 Konstitusional Psikologis

Adalah hubungan psikologi perorangan dengan morfologi dan fisiologi badannya.7

3.5.3 Remaja Putri

Adalah individu dengan jenis kelamin perempuan berusia 11 s.d 15 tahun yang sudah mengalami menarche.

3.5.4 Menarche

Adalah haid atau menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang remaja putri dan terjadi di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi.

3.5.5Usia menarche

Adalah usia remaja putri pada saat pertama kali mendapatkan haid.

3.5.6. Pengetahuan tentang menarche

Adalah segala sesuatu yang diketahui, baik diperoleh secara formal maupun informal oleh remaja putri tentang menarche.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Data diperoleh dengan cara, sebagai berikut:

· Kuesioner

· Depth interview

3.6 Penyajian hasil penelitian

Data yang telah diperoleh akan disajikan secara deskriptif

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya pada tahun 2004 ini mengambil lokasi di Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. Sesuai dengan judul yang kami angkat yaitu mengenai Konstitusional Psikologis Remaja Putri Yang Telah Mengalami Menarche Di SLTP Negeri I Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir maka populasi pada penelitian ini adalah remaja putri yang telah mengalami menarche. Populasi diambil dengan menggunakan angket yang disebar pada seluruh siswi SLTP Negeri I Indralaya pada 18 kelas yang terdiri dari 7 kelas I, 6 kelas II, dan 5 kelas III lalu didapat populasi yang berjumlah 239 orang siswi, terdiri dari 48 orang dari kelas I, 91 orang dari kelas II, dan 100 orang dari kelas III, kemudian diambil sampel secara proportional sratified random sampling sebanyak 50 orang yang terdiri dari 10 orang siswi kelas I (20%), 19 orang siswi kelas II (38%), dan 21 orang siswi kelas III (42%).

4.1 Menarche

4.1.1 Terminologi Menarche

Hampir semua subjek tidak mengetahui istilah menarche. Sebagian besar subjek mengetahui istilah menstruasi dan mereka menyebutnya dengan istilah mens, haid, mentos, halangan, palang merah, lampu merah, datang tamu, sakit lutut, si “itu”, bendera jepang. Ada juga subjek yang menyebutnya dengan sun go kong, mereka mengatakan, “Itu kak di lagu nyo tu kan ado kato-kato halangan dan rintangan, makonyo kak biar cowok-cowok dak tau pake istilah itu”

4.1.2 Usia Menarche

Hasil penelitian di SLTP Negeri 1 Indralaya menunjukkan bahwa usia rata-rata remaja putri saat mengalami menarche adalah 12,46 tahun. Sekitar 12% subjek mengalami menarche pada usia 14 tahun, 42% pada usia 13 tahun, 30% pada usia 12 tahun, 12% pada 11 tahun, dan 4% pada usia 10 tahun.

4.1.3 Perhatian Remaja Putri Mengenai Menarche

Pada umumnya (72%) subjek penelitian memberikan perhatian khusus terhadap menarche dengan mempersiapkan diri sebelumnya seperti bertanya pada ibu, teman, dan kakak perempuan; menggunakan pembalut saat menarche; lebih memperhatikan kebersihan diri saat menarche; ingin mengetahui lebih lanjut tentang menarche sehingga rasa penasarannya dapat hilang, mengkonsumsi obat-obat penghilang rasa sakit dan ramuan tradisional yang terbuat dari beras kencur dan kunyit asam untuk menghilangkan rasa sakit ketika menarche; menggunakan alas di tempat tidur pada saat menarche; mengenakan pakaian yang berwarna gelap agar tidak mudah tembus; mempersiapkan mental; dan menunggu waktu datangnya menarche karena menarche merupakan peristiwa menuju kedewasaan sebagai seorang wanita. Sisanya tidak memberikan perhatian khusus terhadap menarche.

4.1.4 Pengetahuan Tentang Menarche

Sebagian besar (70%) subjek penelitian sudah mengetahui tentang menarche sebelum mereka mendapatkan menarche dan sisanya mengetahui menarche setelah mereka mendapatkan menarche tetapi dari sebagian besar subjek yang mengetahui menarche sebelum mendapatkan menarche mengaku tidak mengetahui secara persis apa itu menarche “Aku tu tau kalo lagi dapet tu metu darah, darah tu kan yuk warnonyo merah tapi ngapo yang metu tu warnonyo coklat, jadi aku tu bingung yuk itu tu apo”.

Sebagian besar subjek memperoleh pengetahuan tentang menarche pertama kali dari ibu, dan sisanya mengetahui menarche dari teman, kakak perempuan, dan tetangga. Sedangkan sumber utama pengetahuan tentang menarche diperoleh dari ibu, teman, guru, kakak perempuan, majalah remaja, buku pelajaran di sekolah, dan ada juga yang memperoleh dari nenek dan tetangga. Ada seorang subjek yang memperoleh pengetahuan tentang menarche untuk yang pertama dan utama dari tetangga “ Aku tu taunyo dari tetanggo tapi tetanggo aku tu maseh kakak kelas aku tula, dio tu ngasih tau aku waktu dio dapet mens pertamo kali, itu be dak sengajo ceritonyo Yuk tapi kalu aku pengen tau apo-apo tentang mens tu aku nanyo samo dio abisnyo kalu aku nanyo ibu, ibu dak biso jawab”.

4.1.5 Manfaat Mengetahui Menarche

Setengah dari subjek penelitian merasa ada manfaatnya mengetahui tentang menarche antara lain mengetahui tentang mens termasuk siklusnya; gejala; dan bentuk mens itu sendiri; tidak takut dan khawatir; tahu bagaimana menggunakan pembalut; lebih menjaga kebersihan; mengetahui bahwa mens adalah tanda normal sebagai seorang wanita; mengerti tentang masalah kewanitaan dan kodrat wanita; merasa beruntung karena tahu tentang mens sebelumnya; memahami bahwa dirinya sudah dewasa “Kalu wong sudah mens tu Yuk, kalu di itu-itu ke wong pacak hamil”, “kalu sudah mens tu kan…kalu belum kawin di itu ke wong biso hamil”,”Jadi aku tau aku sobor apo idak, soalnyo kalu idak mens tu berarti idak sobor, mandul, wong dak galak kawin samo dio , takutnyo dak pacak punyo anak”.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa tidak ada manfaatnya mengetahui tentang menarche “Dak ado manfaatnyo yuk tau soal menarche , malah aku tu kesel dapet mens, aku tu lebih seneng cak cowok, tegas, berani, idak cak cewek pacaknyo nangis, mekik-mekik, aku dak seneng cak itu”.

4.1.6 Kasus Klinik

Ada beberapa kasus pada saat depth interview yang berhubungan dengan pengetahuan tentang menarche serta ada tidaknya manfaat bagi subjek penelitian.

Kasus 1

Anis (bukan nama sebenarnya), seorang anak tunggal dalam keluarganya, berusia 13 tahun, mengalami menarche pada usia 11 tahun, mengaku telah mengetahui tentang menarche sebelum ia mendapatkan menarche dari guru agamanya kemudian dia menanyakan pada ibunya tentang hal tersebut. Namun dia menyatakan bahwa pengetahuan tentang menarche yang dia dapatkan tidak bermanfaat baginya pada saat ia mengalami menarche. Pada saat mendapatkan menarche, dia menangis karena tidak ingin mengalami mens. Anis lebih suka menjadi seperti seorang lelaki yang dapat menghadapi masalah dengan tegar, tidak seperti seorang perempuan yang menghadapi masalah dengan menangis.

Kasus 2

Nana (bukan nama sebenarnya), 13 tahun, seorang remaja putri yang mengalami menarche pada usia 12 tahun, mengatakan bahwa ia merasa takut dan minder setelah mengalaminya. Walaupun ia telah mengetahui tentang menarche sebelum ia mengalaminya, nana tidak mempercayai tentang menarche sebelum ia benar-benar mengalaminya sendiri. Nana mengaku bahwa tidak ada manfaat yang ia dapatkan dari pengetahuannya tentang menarche tersebut karena pada akhirnya ia tidak merasa memperoleh kebebasan sebagai seseorang yang telah dewasa, padahal apa yang ia ketahui bahwa menarche adalah tanda kedewasaan seorang wanita.

Kasus 3

Uli (bukan nama sebenarnya), 15 tahun, saat ini ia duduk di kelas III SLTP, mengalami menarche pada saat ia duduk di kelas 1 SLTP. Uli mengaku telah mengetahui tentang menarche dari ibunya sebelum ia mengalami hal tersebut. Hal ini dirasakan olehnya sebagai suatu hal yang bermanfaat, karena saat ia mengalami menarche, ia bisa menghadapi hal tersebut dengan tenang. Bahkan ia merasa gembira karena baginya menarche adalah suatu tanda kedewasaan.

4.2 Reaksi Ketika Mendapatkan Menarche

Pada saat mengalami menarche, berbagai reaksi timbul dalam diri subjek sebagai respon terhadap menarche yang merupakan hal baru bagi mereka. Berbagai reaksi yang timbul antara lain takut, terkejut, biasa saja, menangis, gembira, mengurung diri, kesal, minder, dan marah.

Ada 23 orang dari subjek penelitian merasa takut karena nasehat orang tua mereka bahwa tidak boleh dekat-dekat dengan teman laki-laki, tidak siap, takut orang lain tahu, bingung bagaimana cara membersihkan, takut melihat darah, takut kena marah, takut darah haid tersebut sebagai suatu penyakit, bingung menjelaskan pada orang lain, takut kehabisan darah, dan belum tahu sama sekali apa itu menstruasi.

Dua puluh orang dari subjek penelitian merasa terkejut karena belum tahu tentang menarche, mengira merupakan suatu penyakit, belum ada persiapan, terlalu cepat waktunya dari yang diperkirakan.

Tiga belas subjek penelitian merasa biasa saja karena mereka tidak memperhatikan menarche dan sudah mengetahui tenang menarche sebelumnya. Sebelas subjek menangis karena kurangnya informasi dari orang tua mengenai menarche, tidak tahan sakit, takut tembus, dan terkejut.

Enam subjek penelitian merasa gembira karena menarche merupakan tanda awal kedewasaan, merasa sebagai wanita yang normal “aku seneng jugo yuk, berarti aku ni normal, idak mandul”, sebelumnya khawatir karena belum mens sedangkan temannya yang lain sudah mens.

Dua orang dari subjek penelitian mengurung diri untuk menenangkan diri. Dua subjek merasa minder karena tidak percaya diri beraktifitas dan takut tembus, dan sudah telat dibandingkan dengan temannya yang lain. Dua subjek merasa kesal karena menarche merupakan suatu beban. Satu orang marah karena merasa berbeda dengan anggota keluarga yang lain “Marah samo diri dewek, ayuk aku keno pas 15 tahun, kenapo aku 13 tahun la dapet”.

KASUS KLINIK

Beberapa reaksi timbul pada saat subjek penelitian mengalami menarche, seperti contoh dibawah ini, ada dua kasus yang menggambarkan perasaan takut dan terkejut, yaitu:

Kasus 1

Pita (bukan nama sebenarnya), 13 tahun. Mengalami menarche pada usia 12 tahun. Reaksi pertama kali ketika mengalami menarche adalah merasa takut sampai berkeringat dingin, malas beraktivitas, dan hanya mengurung diri di kamar, ia berfikir, “ kenapa la.. ini terjadi” dan bertanya-tanya “apo dio ini ni..” selama seharian. Dan dia merasa tidak senang mengalami menstruasi pada saat itu.

Kasus 2

Yayuk (bukan nama sebenarnay), 14 tahun. Mengalami menarche pada usia 12 tahun. Ia merasa terkejut ketika mengalami menarche, ia mengatakan, “ Waktu lomba 17 agustusan tu Yuk celana aku basah terus, trus aku balek, merikso celano ternyata aku dapet… Setelah kejadian itu aku pake celana dalam berlapis-lapis”. Sekalipun ia sudah tahu tentang menarche sebelumnya, Namun ia masih merasa terkejut pada saat mengalami menarche.

4.3 Dampak Menarche Terhadap Psikologis Remaja Putri

4.3.1 Hal-Hal Yang Diprihatinkan Pada Masa Remaja

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masalah yang paling diprihatinkan atau dikhawatirkan oleh subjek adalah masalah dalam belajar yang berkaitan dengan banyaknya tugas, takut pada mata pelajaran tertentu terutama matematika, takut pada guru, dan takut gagal dalam prestasi akademik, hal ini sebagian besar terjadi pada saat subjek memasuki bangku SLTP, namun ada juga seorang subjek yang merasakan masalah ini sejak kelas V SD karena pada masa itu dia mengalami trauma dengan salah satu gurunya sehingga untuk selanjutnya dia merasa takut dan kurang dapat berkosentrasi pada pelajaran yang karakter gurunya hampir sama dengan gurunya pada saat dia kelas V SD.

Pada beberapa subjek masalah yang paling mengkhawatirkan adalah bergaul akrab dengan lawan jenis, seperti “ kato wong tu Yuk ye… kalu deket-deket samo lanang tu pacak nyebabke hamil, Yuk”. Ada juga subjek yang mengkhawatirkan tentang pemerkosaan pada masa remaja karena banyaknya kejadian pemerkosaan yang diekspose oleh televisi. Selain itu hubungan dengan anggota keluarga juga merupakan masalah yang mengkhawatirkan mereka, seperti cemburu dengan adik perempuan karena merasa mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang tua. Masalah pergaulan seperti penggunaan narkoba, seks bebas, pacar, takut dijauhi teman, dan tidak percaya pada teman juga merupakan masalah yang mengkhawatirkan bagi sebagian kecil subjek. Masalah kewanitaan, seperti takut mendapatkan mens dan hamil, dan masalah penampilan merupakan masalah yang mengkhawatirkan pada sedikit subjek.

Namun beberapa subjek yang lain menganggap tidak ada hal yang perlu di khawatirkan selama masa remaja mereka saat ini. Hal-hal yang mengkhawatirkan subjek dalam masa remajanya tersebut mulai mereka rasakan pada saat mereka duduk di bangku SLTP dan setelah menarche.

Permasalahan-permasalahn yang dikahawatirkan oleh subjek kebanyakan tidak mempengaruhi kehidupan mereka. Namun subjek yang mengkhawatirkan perubahan tubuh menjadi malu memakai pakaian yang ketat, menghindari olah raga terutama olah raga lari, menjadi penakut, menjadi khawatir terlalu gemuk, tidak tambah tinggi, berhati-hati dalam bersikap, dan mengurangi bergaul dengan lawan jenis, sebaliknya ada juga yang semakin akrab dengan lawan jenis, takut prestasi akademis menurun, sering melamun, menjauhi pacaran, menutup diri dari pergaulan, tidak lagi bermain dengan anak-anak kecil, kesepian dan hanya percaya pada teman-teman tertentu.

Berangkat dari permasalahan-permasalahan yang mengkhawatirkan subjek tersebut, hal ini juga dapat mempengaruhi hubungan subjek dengan orang tua, banyak subjek menjadi lebih dekat dengan ibu karena merasa sebagai sesama wanita. Namun ada juga subjek yang lebih dekat dengan ayah bahkan tidak ragu membicarakan masalah kewanitaan dengan ayahnya.

Ada seorang subjek yang tidak dekat sama sekali dengan orang tua karena dia merasa sudah cukup dekat dengan kakak perempuannya saja, dia bisa cerita apapun dengan kakak perempuannya tanpa merasa perlu untuk menutup-nutupi setiap permasalahan yang dia hadapi. Beberapa subjek mengatakan bahwa masalah-masalah yang mereka khawatirkan itu tidak berpengaruh apapun dalam hubungan mereka dengan orang tua.

Kebanyakan pada subjek setelah mendapatkan menarch menjadi lebih malu bercanda atau akrab dengan kakak laki-laki sedangkan dengan saudara perempuan, ada subjek yang menjadi lebih akrab, ada yang biasa saja, ada salah satu subjek yang sangat ingin seperti kakak perempuannya, yang sering diperhatikan laki-laki, dan ada juga yang merasa cemburu dengan adik perempuan karena adik perempuannya lebih tinggi badannya daripada dia dan ada juga karena merasa dirinya kurang disayang oleh orang tua daripada adiknya.

Dalam pergaulan keseharian, berawal dari hal-hal yang mengkhawatirkan tadi, sebagian besar subjek merasa lebih dekat berteman dengan teman perempuan dari pada laki-laki, namun ada juga yang biasa saja, dan bahkan ada yang tidak dekat baik dengan teman laki-laki maupun perempuan, ada juga yang tidak mau bermain lagi dengan anak kecil karena dia merasa dirinya sudah dewasa.

KASUS KLINIK

Berikut ini contoh beberapa kasus mengenai dampak menarche terhadap psikologis remaja putri.

Kasus 1.

Zinta (bukan nama sebenarnya), 14 tahun. Mengalami menarche pada usia 13 tahun, namun ia mengalaminya hanya 1 hari dan dalam terus berulang pada setiap siklus mentruasinya. Menurut pengakuannya, dia menderita kanker darah pada saat ia duduk di kelas VI SD yang sempat membuatnya menginap di rumah sakit selama 3 bulan. Penyakitnya tersebut dapat kambuh dan memerlukan pengontrolan terus-menerus.

Sampai saat inipun zinta terus memeriksakan diri ke dokter secara berkala. Hal ini mempengaruhi kehidupannya dalam belajar, hubungannya dengan orang tua dimana dia makin menjauhi mereka. Namun demikian ia memiliki hubungan yang baik dengan semua teman dan saudaranya, baik saudara laki-laki maupun saudara perempuannya.

Kasus 2

Lana (bukan nama sebenarnya), 14 tahun, mengalami menarche pada usia 11 tahun, memprihatinkan masalah perkosaan dan hal ini sangat mempengaruhi kehidupannya, ia menjadi lebih menjaga dirinya dengan tidak terlalu dekat dengan laki-laki, sekalipun dengan ayahnya, ia mengatakan, “kalu aku dirumah beduo bae samo ayah, aku tu takut yuk jadi aku pegi maen bae ketempat wawak aku tapi di deket rumah tula”.

Kasus 3

Yana (bukan nama sebenarnya), 14 tahun, mengalami menarche pada usia 14 tahun. Mengkhawatirkan masalah kehamilan karena neneknya berkata, “Amen la mens tu jangan deket-deket samo lanang kareno pacak hamil”, maka dari itu dia agak menutup diri bergaul dengan teman laki-laki. Ibunya pun menasehati agar jangan terlalu dekat dengan ayahnya karena sering menonton kasus ayah memperkosa anak pada tayangan infokriminal di salah satu stasiun televisi swasta.

4.3.2 Perubahan-Perubahan Morfologi Dan Fisiologi Yang Berpengaruh Pada Psikologis

Mayoritas subjek mengetahui bahwa banyak perubahan morfologi yang mereka alami seperti penambahan berat badan dan tinggi badan. Menurut mereka hal ini disebabkan karena nafsu makan mereka yang meningkat semenjak mereka mengalami menarche. Timbulnya jerawat, payudara yang membesar, pinggul membesar, bahu membesar, tumbuhnya rambut halus di ketiak dan sekitar daerah kemaluan, muka berminyak, suara membesar, wajah makin putih, munculnya flek-flek hitam pada wajah, dan kulitnya makin hitam merupakan perubahan-perubahan morfologi yang diperhatikan oleh subjek tetapi secara fisiologis subjek tidak mengetahui penyebab dari perubahan morfologi tersebut.

Pada umumnya subjek tidak mengetahui bahwa terdapat banyak perubahan fisiologis dalam tubuh mereka, tetapi ada sebagian kecil subjek mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang dialaminya, antara lain sakit perut dan pinggang saat hari pertama menstruasi, payudara mengencang dan sakit, banyak berkeringat, bau badan, serta nafsu makan menurun.

Perubahan-perubahan morfologis dan fisiologis yang diketahui oleh subjek ini mempengaruhi psikologis subjek itu sendiri, pada umumnya subjek menjadi orang yang lebih cepat marah dan mudah kesal, merasa telah dewasa, lebih cepat tersinggung, minder, pemalu, dan sebagian kecil subjek mengatakan bahwa mereka menjadi orang yang tidak sabar, merasa risau dan takut, cerewet, kekanak-kanakan dengan cowok, suka berias, rajin, pemalas, mengurung diri kalau dimarahi, dan takut bergaul dengan lawan jenis. Namun dari hasil penelitian banyak subjek yang tidak mengetahui pengaruh dari perubahan morfologi dan fisiologi dari tubuh mereka pada psikologis mereka.

Setelah seorang remaja putri mengalami menarche, bukan hanya terjadi perubahan morfologis, fisiologis, dan psikologis dalam diri mereka tetapi juga terjadi perubahan sosial dan seksual. Dalam hubungan sosialnya banyak subjek yang lebih memilih untuk membentuk kelompok-kelompok (geng-geng) sebagai tempat untuk menumpahkan segala keresahan mereka, berbagi cerita terutama cerita-cerita pribadi, ketertarikan dengan lawan jenis dan belajar bersama. Subjek merasa lebih terbuka menceritakan tentang kehidupan pribadi mereka dengan teman daripada dengan orang tua.

Selain itu dalam perkembangan kehidupan sosialnya. Subjek juga menjadi orang yang lebih agresif, suka ngerumpi, lebih sopan dalam bersikap dan lebih ramah dengan orang lain, lebih memperhatikan penampilan, rajin melakukan pekerjaan rumah namun ada juga yang malah malas melakukan pekerjaan rumah, malas berolahraga, lebih suka pada musik, tidak bergaul dengan orang lain kecuali teman-teman yang memang sudah dikenal baik, takut pada orang yang tidak dikenal, adanya rasa persaingan dengan sesama teman, dan menjadi orang yang pendiam.

Pada penelitian ini, sebagian kecil subjek kurang memperhatikan lawan jenisnya karena kebanyakan dari orang tua subjek terutama ibu melarang mereka untuk terlalu dekat dengan lawan jenis, selain itu sebagian besar subjek lebih memperhatikan masalah akademis. Namun ada diantara mereka yang menjadi lebih genit, pemalu, ingin dekat dengan lawan jenis tetapi hanya sebagai teman curhat, lebih memperhatikan penampilan (suka berias), dan merasa diperhatikan lawan jenis.

KASUS KLINIK

Berikut ini contoh beberapa kasus yang menggambarkan tentang perubahan-perubahan morfologi dan fisiologi yang berpengaruh pada psikologi.

Kasus 1

Uni (bukan nama sebenarnya), 14 tahun, mengalami menarche pada usia 12 tahun. Memperhatikan perubahan tinggi badan yang meningkat cepat, berat badan bertambah, pinggul dan payudara membesar, dia menjadi malu jika banyak bergerak pada saat berolahraga terutama lari. Dia juga menjadi malu jika memakai pakaian yang ketat. Dalam kehidupan sosialnya, dia menjadi orang yang pemalu, minder, dan sangat menjaga jarak dengan lawan jenis.

Kasus 2

Anti (bukan nama sebenarnya), 13 tahun, usia pada saat mengalami menarche 12 tahun. Dia mulai memperhatikan perubahan fisiknya seperti perubahan bentuk badan, payudara membesar sebelum menstruasi pertama, mulai tumbuh rambut di axilla dan pubis. Perubahan pada wajahnya yang menjadi jerawatan membuatnya merasa malu untuk keluar rumah.

Kasus 3

Lili (bukan nama sebenarnya), 15 tahun, usia pada saat mengalami menarche 14 tahun. Dia lebih memperhatikan perubahan tubuh yang semakin membesar pada bagian-bagian tertentu serta perubahan pada payudara. Dia mengetahui menstruasi pertama kali dari cerita temannya tentang menstruasi pertama, sedangkan sumber utama diperoleh dari buku pelajaran biologi. Dia merasa ketakutan bahkan belum bisa menghilangkan rasa takutnya sampai tiga kali menstruasi setelah menarche.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usia rata-rata menarche di SLTP Negeri I Indralaya adalah 12,46 tahun. Sebagian besar subjek penelitian mengetahui tentang menarche dari ibu mereka sebelum mereka mendapatkan menarche. Namun ada beberapa informasi yang diberikan dapat berdampak negatif pada perilaku subjek, hal ini dikarenakan maraknya infokriminal yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi sehingga informasi yang diperoleh cukup membingungkan dan dapat berdampak buruk.

Berdasarkan hasil penelitian, perubahan morfologi, seperti peningkatan berat badan; tinggi badan; pembesaran payudara; tumbuhnya rambut-rambut halus di ketiak dan daerah kemaluan; timbulnya jerawat; dan perubahan fisiologi, seperti payudara mengencang dan sakit; berkeringat banyak; dan bau badan dapat mempengaruhi psikologi remaja putri, seperti menjadi lebih sensitif; cepat marah; dan pemalu.

5.2 Saran

Diperlukan informasi yang benar tentang menarche dan sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi yang dapat dilakukan melalui pembelajaran pada mata pelajaran biologi, agama, dan olahraga. Hal ini perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Selain itu peran serta ibu dan peran serta media elektronik serta media massa sangat diperlukan untuk pemerataan informasi.

Daftar Pustaka

1. Dalton, Katarina. 1984. Sebulan Sekali “Bagaimana Wanita Menghadapinya”.

Sinar harapan. Jakarta

2. Greenth, Thomas. 1977. G ynecology essential of clinical practice third edition.

Little brown and companya. Boston

3. Guyton, Arthur C. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC. Jakarta

4. James, Susan Rowen. 1946. Child Health Nursing: Essential Care of Children and

Families. Addison-Wesley Publishing Company. Califrnia

5. Pratiknya, Ahmad Watik. 2001. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran

dan Kesehatan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

6. Speroff, Leon. 1999. Clinical gynecologic endocrinology and infertility 6Th

edition. Lippincott Williams and Wilkins. USA

7. Stuart, Gail W. 2001. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Mosby.

USA

8. Tim penerjemah EGC. 1996. Kamus Kedokteran Dorland. Penerbit EGC. Jakarta

1. Tim penulis IKA. 1998. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit

Infomedika. Jakarta

10.Waechter, Eugenia H. 1976. Nursing Of Children. Lippincott Company. USA

11. www.geocities.com/ginekologiwanita/remaja1.htm

12. www. Youthshakers.org/sexualhealth/youngwomen/firstmenst.htm

13.www.menstruation.com.au/periodpages/tgi.html

Lampiran 1

JADWAL KERJA

1. Pembuatan dan perbaikan proposal dari tanggal 14 Oktober 2003 sampai dengan tanggal 13 Januari 2004.

2. Pembekalan dari tanggal 14 Januari 2004 sampai dengan tanggal 24 Januari 2004.

3. Survei lokasi dan perizinan dari tanggal 23 Januari 2004 sampai dengan tanggal 24 Januari 2004.

4. Pengambilan data dari tanggal 26 Januari 2004 sampai dengan tanggal 30 Januari 2004.

5. Pengolahan data dari tanggal 30 Januari 2004 sampai dengan tanggal 31 Januari 2004.

6. Seminar tanggal 3 Februari 2004 sampai dengan tanggal 4 Februari 2004.

7. Perbaikan laporan dari tanggal 5 Februari 2004 sampai dengan tanggal 14 Februari 2004.

8. Pengumpulan laporan akhir pada tanggal 16 Februari 2004.

Lampiran 2

TIM PENELITI

Ketua : Ezra Ebenezer Soleman

Sekretaris : Alti Idah Anugrah

Bendahara : Fani Paulina

Anggota : Ria Damayanti

Angga Pramuja

Mimi Malisa

Theresia Marinda Simamora

Victori

Ibnu Kuncoro

Putri Indah Larasati

Lampiran 4

ANGKET

Nama :

Umur :

Telah mengalami menarche (haid/ menstruasi yang pertama kali) :

A. Sudah

Pada usia :

B. Belum

Usia menarche ibu :

DEPTH INTERVIEW

No. Urut :

Nama :

Umur :

Kelas :

Usia ketika menarche (haid/ menstruasi pertama kali):

Usia ibu ketika mengalami menarche (haid/ menstruasi pertama kali):

1. Apa yang kamu prihatinkan pada masa remajamu?

2. Kapan hal itu mulai terjadi/ kamu rasakan (moment dan tanggal pasti)?

3. A. Adakah perubahan morfologi/ fisik/ lahiriah yang sudah kamu ketahui?

(sebutkan bila ada)

B. Adakah perubahan fisiologi yang sudah kamu ketahui(menyangkut masalah nomor atau penyebab adanya perubahan secara fisik/ morfologi?

c. Adakah perubahan psikologi/ emosi yang sudah kamu ketahui?

d. Adakah perubahan lain yang sudah kamu ketahui (seperti perubahan perilaku

Sosial, seksual, dsb)?

4. Dari siapa/ media apa sumber informasi hal tersebut kamu ketahui?

- Apa/ siapa yang pertama?

- Apa/ siapa yang utama?

5. A. Sejauh mana masalah yang kamu prihatinkan mempengaruhi kehidupanmu?

b. Sejauh mana masalah yang kamu prihatinkan mempengaruhi hubunganmu dengan orang tua?

c. sejauh mana masalah yang kamu prihatinkan mempengaruhi hubunganmu

dengan saudara kandung laki-laki atau perempuan?

D. Sejauh mana masalah yang kamu prihatinkan mempengaruhi hubunganmu dengan teman laki-laki atau perempuan?

6. Apakah kamu mempunyai perhatian khusus terhadap menarche?

(kalau ada, perhatian yang bagaimana)

7. Apa reaksimu ketika mendapat menarche (haid yang pertama)?

a. Menangis

b. Takut

c. Gembira

d. Terkejut

e. Pingsan

f. Biasa saja

g. Marah

h. Mengurung diri

i. Minder

j. Lain-lain

8. Apakah kamu mengetahui tentang menarche setelah mengalami atau sebelumnya dan darimana kamu mengetahuinya?

9. Apakah ada manfaatnya kamu mengetahui segala hal tentang menarche?

Lampiran 5

Makalah Penyuluhan Kesehatan di SLTP N I Indralaya

“ PUBERTAS ”

Masa pubertas adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan dimana terdapat berbagai perubahan yang cepat pada masa kehidupan manusia yang dimulai pada usia 13-16 tahun pada pria, dan 12-15 tahun pada wanita

Istilah pubertas berasal dari perkataan pubercere yang berarti menjadi matang

pubertas pada wanita dimulai dengan berfungsinya ovarium dan timbulnya tanda seks sekunder.

Perubahan-perubahan tersebut kira-kira terjadi pada umur:

9-11 : Tulang pinggul mulai tumbuh ke arah bentuk yang khas wanita dewasa, lemak mulai tertimbun, membentuk garis-garis yang khas, puting susu mulai timbul

10-11 : Puting susu mulai semakin besar, rambut pubis mulai tumbuh.

11-13 : Lingkaran di sekitar puting susu mulai terbentuk, alat-alat reproduksi serta genitalia mulai berkembang, dinding vagina makin tebal, dan cairan vagina mulai disekresikan.

12-14 : Mamae berkembang lebih lanjut dan putingnya makin menghitam.

13-15 : Rambut pubis semakin banyak, bulu ketiak mulai tumbuh. Menarche terjadi pada usia ini tetapi masih belum teratur.

15-17 : Lemak sekitar pinggul dan mamae semakin tebal, haid semakin teratur.

16-18 : Pertumbuhan tinggi badan terhenti, tinggi badan maksimum tercapai

Menarche adalah haid atau menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang wanita dan terjadi di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Menarche biasanya terjadi antara tiga sampai delapan hari, rata-rata lima setengah hari. Dalam satu tahun setelah terjadinya menarche, ketidakteraturan haid masih sering dijumpai. Ketidakteraturan terjadinya haid adalah kejadian yang biasa dialami oleh para remaja putri. Sekitar dua tahun setelah menarche akan terjadi ovulasi. Ovulasi ini tidak harus terjadi setiap bulan tetapi dapat terjadi setiap dua atau tiga bulan dan secara berangsur siklusnya akan menjadi lebih teratur. Dengan terjadinya ovulasi, spasmodicdismenorrhoea dapat timbul.

Siklus haid dihitung sejak hari pertama dari menstruasi hingga hari etrakhir sebelum menstruasi berikutnya datang, oleh karena itu siklus haid meliputi juga masa ketika terjadi perdarahan, beserta jarak waktu sebelum menstruasi berikutnya mulai. Pada kebanyakan wanita, siklus ini berkisar antara 24-34 hari dengan rata-rata 29 hari.

Hormon estrogen dan progesterone menurun secara tiba-tiba

Penurunan ransangan terhadap sel dinding rahim

Pembuluh darah yang berkelok-kelok menjadi menyempit

Darah merembes ke lapisan pembuluh darah dinding rahim

Dalam 4-6 jam daerah perdarahan bertambah besar dan cepat

Perlahan-lahan bagian luar dinding rahim terlepas dari rahim pada daerah perdarahan tersebut

Menstruasi

Masa remaja adalah waktu yang optimal dengan kecepatan perubahan fisik, intelektual, kemampuan sosial, dan juga periode kemurungan, pemberontakan atau masa sedih kehilangan masa kecil, tidak peduli, dan bersenang-senang. Pada remaja putri, awal perubahan ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), serta pertumbuhan ciri-ciri seks sekunder. Misalnya payudara, bokong dan bagian tubuh lainnya, dan mulai tertarik pada lawan jenis.

Derek Miller (1974) mengajukan tiga tahap masa remaja, yaitu:

2. Masa Remaja Awal (11-15 tahun)

Menurutnya remaja pada masa ini mulai sadar akan kegelisahan dan ketegangan, anak perempuanpun akan menjadi pemalu terhadap hal-hal tertentu dan membentuk sikap pertahanan diri.

2. Masa Remaja Menengah (14-18 tahun)

Mengidentifikasikan diri “siapakah saya?” dan menyadari diri sendiri. Remaja pada masa ini membentuk keuletan, ide, kegunaan, dan perasaan tentang moral serta hasrat seksual yang mengutamakan kepentingan orang lain daripada keluarga.

3. Masa Remaja Akhir (17-20 tahun)

Dideskripsikan sebagai masa penanggulangan dimana remaja pada masa ini berusaha mencoba aturannya sendiri.

Setelah remaja putri mengalami menarche akan terjadi perubahan morfologis dan fisiologis pada dirinya yang berpengaruh terhadap psikologis remaja putri tersebut. Perubahan psikologis yang paling menonjol adalah perubahan emosional dimana pada masa ini emosional menjadi tidak stabil, mudah marah, lamban dalam bereaksi, mudah putus asa, banyak melakukan kesalahan dan perubahan kegairahan.

Lampiran 6.

NOTULEN

PENYULUHAN KESEHATAN MENGENAI PUBERTAS

DI

SLTPN I INDRALAYA

OLEH

MAHASISWA KELOMPOK I GANJIL FK UNSRI

Tahap pertama dari penyuluhan ini diawali dengan kata sambutan dari Wakil Kepala Sekolah SLTPN I Indralaya dan diteruskan dengan kata sambutan dari Ketua OSIS SLTPN I. Pada tahap kedua siswa-siswi diberikan informasi seputar pubertas pada anak laki-laki dan anak perempuan, antara lain informasi mengenai makna pubertas itu sendiri, tanda-tanda pubertas pada anak laki-laki dan perempuan., pengertian menarche, siklus menstruasi, dan faktor- faktor yang melatarbelakangi terjadinya menstruasi.

Pada tahap ketiga diberikan kesempatan bertanya bagi siswa-siswi. Tahap tanya jawab ini dibagi menjadi 4 sesi dimana setiap sesi dibatasi hanya 3 pertanyaan yang diajukan.

Sesi Pertama

1. Penanya : Vanadia Vineta

Pertanyaan : “ Kenapa saluran reproduksi perempuan beda dangan lanang?”

Jawaban :” Organ reproduksi memiliki bentuk yang sesuai dengan fungsinya. Organ reproduksi laki-laki berbentuk panjang dan sempit untuk mengeluarkan sperma dan urine, berbeda halnya dengan organ reproduksi perempuan yang berbentuk kerucut terbalik karena fungsinya sendiri sebagai tempat perkembangan janin yang tentunya membutuhkan ruang yang lebih luas dan kuat.”

2. Penanya : Leonita

Pertanyaan : “ Kenapo kadang-kadang amen lagi mens ado keputihan?”

Jawaban : “Pada sebagian besar orang, peristiwa keputihan menjelang mens adalah hal yang wajar. Hal itu disebabkan pada saat menstruasi terjadi peluruhan dinding rahim karena dorongan otot rahim bila sel ovum ( sel telur yang dimiliki wanita) tidak dibuahi oleh sperma (sel reproduksi yang dimiliki laki-laki). Peristiwa ini disertai dangan pengeluaran cairan atau lendir dari tubuh. Lendir inilah yang disebut keputihan.”

3. Penanya : Ayu Indra Sari

Pertanyaan : “ Ngapo pas mens sakit perut?”

Jawaban : “ Pada saat terjadi menstruasi/haid terjadi dorongan otot rahim. Pada hari 1 biasanya rasa sakit itu akan lebih besar daripada hari berikutnya karena darah haid dan sisa –sisa dinding rahim akan tertampung dulu pada salah satu saluran wanita yang masih tertutup (disebut canalis cervic ) sebelum dikeluarkan. Perlu adanya tekanan dan dorongan yang besar untuk mengeluarkannya. Tekanan dan dorongan inillah yang menyebabakan sakit perut.”

Sesi Kedua

4. Penanya : Bram Bravo

Pertanyaan : “ Kenapo laki-laki samo perempuan pacak mandul?”

Jawaban : “ Mandul pada laki-laki disebabkan antara lain oleh gerakan sel sperma yang lemah sehingga tidak memungkinkan untuk “ bertemu” dengan sel ovum, jumlah sel sperma terlalu sedikit, bentuk dan kekuatan sel perma yang tidak dapat menembus penghalang pada saluran reproduksi wanita,serta faktor lainnya.

Mandul pada perempuan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang hampir sama dengan laki-laki, yaitu gerakan sel ovum yang lemah untuk bertemu dengan sel sperma, jumlah sel ovum yang dikeluarkan terlalu sedikit, dan adanya penyumbatan atau kelainan pada saluran reproduksi wanita sehingga menghalangi pengeluaran ovum.”

5. Penanya : Anna

Pertanyaan : “ Kenapo pada lanang galak tumbuh bulu di ketiak samo kemaluan?”

Jawaban : “ Sebenarnya bukan hanya laki-laki yang memiliki bulu diketiak dan di kemaluan , perempuan pun akan memiliki bulu-bulu di ketiak dan di kemaluan pada saat memasuki usia pubertas. Hal ini disebabkan karena rangsangan hormon. Pada laki-laki, hormon yang merangsang tanda-tanda pubertas (sex sekunder) yaitu androgen dan testosteron, sedangkan hormon estrogen merangsang tanda-tanda pubertas pada perempuan.”

6. Penanya : Kaisar

Pertanyaan : “ Kenapo biso tumbuh jerawat?”

Jawaban : “ Jerawat bisa disebabkan karena tertutupnya pori-pori kulit oleh kotoran sehingga terkontaminasi dengan bakteri, serta dapat juga disebabkan karena pengaruh hormon pada laki-laki dan perempuan.”

Sesi Ketiga

7. Penanya : Regi

Pertanyaan : “ Kenapo di keputihan ado yang kuning?”

Jawaban : “ Keputihan yang ada coklatnya berarti tercampur dengan darah, biasanya terjadi pada saat-saat menjelang dan sesudah haid. Bila terdapat warna kuning kemungkinan terkontaminasi dengan bakteri . Hal ini bisa saja terjadi bila pakaian dalam kita lembab dan tidak bersih.”

8. Penanya : Mido

Pertanyaan : “ Kenapo biso ado kembar limo, tigo, dan duo?

Jawaban : “ Pada umumnya 1 sel sperma hanya akan membuahi 1 sel ovum, tapi tidak menutup adanya kemungkinan 1 sel sperma membuahi 2 sel ovum, 2 sel sperma membuahi 2 sel ovum, 3 sel sperma membuahi 3 sel ovum dan seterusnya . Selama pertahanan dalam rahim ibu kuat , nutrisi baik , tidak ada zat-zat pengganggu, maka peristiwa lahir kembar bisa saja terjadi.

Kembar itu ada yang identik artinya penampakan luar yang sama persis,dan non identik yang penampakan luarnya tidak terlalu sama.”

9. Penanya : Leonita

Pertanyaan : “Kenapo ado yang lesbi dan homo?”

Jawaban : “ Lesbi dan homo bukanlah suatu cacat fisik dan pada sebagian besar kasus bukanlah suatu penyakit dari lahir. Kondisi seperti ini sebenarnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang tidak baik sehingga mempengaruhi kejiwaan dari orang –orang tertentu. Misalnya, pria normal yang sering bergaul dangan banci maka tingkah lakunya lama-lama akan seperti banci bahkan bisa menyukai sesama jenisnya.”

Sesi Keempat

10. Penanya : Vanadia Vineta

Pertanyaan : “ Kenapo ado orang yang badannya sikok tapi mukonyo duo?”

Jawaban : “ Peristiwa badan satu bermuka dua merupakan kelainan dari lahir karena adaya “kembar yang tidak jadi”. Faktor-faktor obat, makanan , nutrisi, lingkungan,dan virus merupakan penyebab dari peristiwa ini.”

11. Penanya : Ari Junaeidi

Pertanyaan : “Kenapo kembar tu bentuk luarnyo be yang samo tapi sifatnyo beda

Jawaban : “ Bentuk luar dari orang kembar dipengaruhi oleh proses fertilisasinya, sedangkan sifat dibentuk dari lingkungan. Jadi, orang yang kembar belum tentu memiliki sifat yang sama, karena bisa saja mereka dibesarkan pada tempat , lingkungan, pendidikan yang berbeda, dan diberikan perhatian yang tidak sama.Hal ini mempengaruhi sifat mereka.”

12. Penanya : Anna

Pertanyaan : “ Kenapo ye yuk ado uwong yang pas mens pertamo kalinyo keno tapi 5 bulan berikutnyo dak keno-keno?”

Jawaban : “ Itu merupakan hal yang lumrah, karena pada waktu pertama kali menstruasi tubuh kita masih beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada organ reproduksi.Tapi, jika ketidakteraturan siklus itu berlangsung terus menerus pada rentang waktu mencolok, maka kita harus mewaspadainya.”

Makalah Penelitian

dibacakan pada acara laporan hasil praktek kerja lapangan

di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

kampus Madang

Palembang

pada Februari 2003

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.